ITS News

Jumat, 01 Juli 2022
15 Maret 2005, 12:03

ITS Akan Tradisikan Upacara Pelepasan Purna Tugas

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Demikian dikatakan Rektor ITS, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA pada sambutan untuk melepas dua dosen senior Jurusan Arsitektur ITS masing-masing Ir Harjono Sigit B.S. dan Ir Djoko Mintarso yang memasuki masa pensiun, Rabu (6/10) siang. "Bentuk-bentuk pemberian perhatian pada peristiwa-peristiwa seperti ini, dapat menambah tumbuhnya socio-cohesiveness tersebut. Kuatnya socio-cohesiveness, menjadikan keluarga besar ITS terasa sangat menikmati keberadaanya di ITS. Rasa ini sangat kondusif untuk tumbuhnya prestasi-prestasi yang membanggakan," katanya.

Mohammad Nuh berharap, ITS tidak hanya dijadikan sekadar tempat kerja, tetapi ITS kita tempatkan sebagai seorang "ibu" dengan segala perangkat yang dimiliki sang "ibu", tentu ada kerinduan dan kehangatan untuk mendapatkan pelukan dari seorang "ibu", termasuk mereka yang telah memasuki masa purna tugas. "Semangat socio-cohesiveness akan menjiwai dalam penataan dan pengembangan institusi. Kuatnya ITS bukan terletak pada kuatnya satu mata rantai tertentu saja, akan tetapi kekuatan rerata yang dimiliki oleh seluruh mata rantai yang dimiliki ITS," katanya.

GELAR SARASEHAN
Pada acara pelepasan purna tugas tersebut, digelar sarasehan dengan pembicara mereka yang memang akan memasuki masa pensiun. Ir Harjono Sigit yang mantan Rektor periode 1982-1986 misalnya, lebih banyak menyampaikan beberapa karya monumental yang dihasilkannya mulai dari Gedung Perhutani, Laboratorium Semen Gresik, hingga pembangunan Pasar Atom. "Apa yang saya lakukan merupakan bagian dari upaya menjalankan profesi di bidang arsitektur, meski ada beberapa pekerjaan teknik sipil, seperti pembangunan sistem pondasi hiper pada masjid Petrokimia, Gresik dan menara di salah satu sudut Pasar Atom yang menjadi ciri atau identitas Pasar Atom," katanya.

Sementara itu, Ir Djoko Mintarso menyampaikan pemikiran tenang konsep rumah Islami sebagai wadah untuk terbentuknya keluarga sakinah. Menurut perancang Kantor Pos dan Giro Bandung ini, kehadiran musalah mutlak diperlukan dalam konsep rumah yang Islami. "Musalah identik keberadaannya dengan tata letak sentong tengah dalam denah arsitektur nusantara Jawa, letaknya sentral dan strategis. Berfungsi sebagai tempat ibadah dalam rangka menghadap kepada sang pencipta dengan melantunkan pujian-pujian," katanya.

Djoko juga mensejajarkan keberadaan musalah dalam konsep rumah yang Islami dengan arsitektur nusantara Madura "Tanean Lanjang", dimana kedudukan langgar letaknya strategis dan sentral dalam tata tapak Tanean Lanjang. "Mengacu pada Tanean Lanjang itulah maka keberadaan langgar untuk saat ini cocok di lingkungan pemukiman dengan rumah tipe kecil, Tipe 21, dimana untuk menyediakan musalah di dalam rumah tidak memungkinkan, melainkan menyiapkan musalah seperti pada Tanean Lanjang," katanya. (Humas/bch)

Berita Terkait