ITS News

Jumat, 30 September 2022
15 Maret 2005, 12:03

Ir Kristiono, Ketua IKA-ITS 2004-2007

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Pengantar: Dirut PT Telkom Ir Kristiono terpilih sebagai Ketua IKA-ITS periode 2004-2007 melalui Sidang Umum Majelis, Sabtu (10/1), tepat pukul 13.30 wib. Kemunculannya dalam bursa kandidat, sempat mengagetkan banyak orang. Mengapa?

Dua bulan menjelang pelaksanaan Sidang Umum Majelis IKA-ITS, tidak banyak alumni yang begitu memberikan perhatian. Namun, begitu tersiar kabar masuknya Kristiono dalam bursa kandidat, tiba-tiba banyak alumni yang mendadak merasa 'peduli'.

"Masak seorang dirut mau menjadi ketua IKA," begitu komentar sebagian besar alumni.

Lalu, orang mulai menduga-duga. Kecurigaan pun muncul, terlebih setelah dikaitkan dengan pelaksanaan Pemilu 2004. "Memang, saya diisukan membawa kepentingan politik. Maklum, saat ini banyak ketua IKA PTN-PTN besar yang berada di bawah Pak Laks (Meneg BUMN, Red)," kata Kristiono usai terpilih.

Namun, isu itu ditanggapi dingin. "Ini tidak perlu dikhawatirkan. Memangnya mudah mempolitisir institusi seperti IKA. Wong ketua IKA itu bukan raja," jawab laki-laki kelahiran Solo dengan logat khasnya. "Saya rasa itu (mempolitisir IKA, Red) tidak mudah. Sebab, IKA tidak berdiri sendiri," tambah M Nuh DEA, Rektor ITS.

"Niat Kristiono menjadi ketua bukan karena ambisinya, tetapi sebagai salah satu bentuk keterpanggilan seorang putra ITS sejati," timpal Deputi Menkominfo, Cahyana Ahmadjayadi. Semasa kuliah, mantan kadivre V Telkom Jatim ini, memang tidak begitu aktif di organisasi. Tidak seperti mahasiswa seusianya yang banyak bergabung di organisasi ekstra kampus.

Maklum, saat itu lagi gencar-gencarnya gerakan mahasiswa menentang Malari. "Dia benar-benar biru (murni orang ITS, Red)," tutur Usman, teman satu generasi.

Bagi Kristiono, pencalonan dirinya lebih banyak dikarenakan keprihatinan melihat eksistensi alumni ITS. Sebagai PTN berbasis teknologi terbesar di wilayah timur Indonesia, peran alumni ITS masih jauh dari harapan.

Eksistensinya belum sehebat alumni ITB, UI atau UGM yang dikenal sangat solid dan penuh percaya diri. "Alumni kita (ITS) itu low profile. Bahkan cenderung merasa tidak percaya diri di ruang gerak lokal maupun regional," kritik Kristiono, kelahiran Solo 12 Februari 1954 ini.

Dalam penggambarannya, eksistensi IKA-ITS diibaratkan sepeda pancal. Siapa pun yang menjadi ketua, tak ubahnya seperti orang menaiki sepeda pancal. Berjalan dengan lambat dan selalu tidak memiliki kepercayaan diri.

Penerima penghargaan Satyalencana Pembangunan dari Presiden RI ini, memang memiliki rasa kepercayaan diri yang berbeda.

Setidaknya terlihat saat wajahnya terpampang dalam backdroff berukuran sangat besar menjelang pelaksanaan sidang.

"Saya yakin, tidak ada alumni yang berani memasang gambar dirinya sebesar itu. Apalagi mencantumkan logo ITS," tegasnya sembari tersenyum.

Membangun kepercayaan diri merupakan kebutuhan mutlak yang harus segera dilakukan. "Kami harus membangun ketokohan," papar penggemar golf ini.

Ketokohan, bagi Kristiono, tidak harus menunggu dilahirkan, tetapi komunitas itu sendiri yang harus melahirkan tokoh-tokohnya. (lege agus nasruddin)

Berita Terkait