ITS News

Senin, 05 Desember 2022
15 Maret 2005, 12:03

IP Nasakom Dicuekin

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Perusahaan Desain Arek Despro ITS Raup Jutaan Rupiah

Seni adalah ilmu kaya yang nggak pernah lekang oleh waktu. Mungkin, ungkapan itulah yang membawa mahasiswa Desain Produk Industri (Despro) ITS berusaha menciptakan peluang bisnis yang spektakuler tanpa harus melepas status kemahasiswaan. Dengan kata lain, duit berbicara!

Sudah jadi tradisi, beberapa mahasiswa Despro ITS di tiap tahun ajaran punya satu atau lebih perusahaan yang bergerak di bidang desain. Sampai sekarang, nggak kurang dari tujuh perusahaan telah didirikan. Yang paling terkenal dan sukses, Truff, didirikan pada 1998. Perusahaan yang diprakarsai lima mahasiswa angkatan 1994 dan l995-John, Robert, Yoga, Endro, dan Dodik-itu berkecimpung di desain pameran, logo perusahaan, maupun backdrop panggung. Yang diurusi bukan hanya desain background stan pameran, tapi juga pengaturan tata letak ruang dan panggung, plus segala macam pernak-perniknya. Kerjaan berat, memang. Tapi, bayarannya pun sebanding. Sekali menerima tender, mereka bisa menerima jutaan rupiah. Yang terbesar, nggak kurang dari Rp 9 juta berhasil mereka kantungi. Makanya, John dan Robert-yang sampai sekarang belum lulus kuliah-menganggap, job jauh lebih penting ketimbang kuliah.

Kalau tugas kuliah dan kerjaan antre untuk diselesaikan, dia bakal memilih kerjaan terlebih dulu. "Aku kan dibayar mereka buat menyelesaikan order. Sedangkan kuliah, kubayar sendiri. So, aku kudu profesional dong," tegas Robert. Nggak heran deh kalau akhirnya, IP nasakom tercatat di lembar nilai mereka.

Mencetak duit banyak, bukan berarti mereka lantas hanya bersenang-senang. Info terbaru soal desain tetap harus diikuti. Bahkan, inovasi dan kreasi baru yang belum terpikirkan orang lain, harus mereka temukan. Kalau tidak, tentu Truff bakal kalah dengan perusahaan desain lain yang lebih senior dan maju. Selain itu, pengerjaan desain yang dipesan klien pun nggak boleh main-main. Kadang, untuk menyelesaikan satu set desain pameran, mereka nggak tidur bermalam-malam. "Kami harus menyiapkan triplek, gergaji listrik, gabus, dan berbagai bahan untuk keperluan background setting," tutur John, "Bahkan, kalau klien pengin kami menyelesaikannya dalam seminggu, kami harus bisa menyanggupinya."

Sayang, nggak semua perusahaan mahasiswa Despro sesukses Truff. Mungkin, selain modal dan kesempatan, faktor lucky pun ikut berperan. Itulah kekurangan Hitam Putih, yang didirikan pada 1999 oleh Satria, Arif Marzuki, Atik, Wisnu Kisworo, dan Firmanda Putra Negara.Meski baru berdiri, publikasi ala Hitam Putih boleh dibilang lumayan gila-gilaan. Mereka menghabiskan modal sampai puluhan juta rupiah. Alhasil, rekening pribadi dan kantung ortu ikutan dirogoh. Hasilnya nggak main-main. Baliho gede di perempatan Kertajaya terpampang menunjukkan nama Hitam Putih. Brosur dan poster pun disebar di berbagai sekul di Surabaya dan Malang. Mungkin, karena besarnya pengeluaran di awal berdirinya Hitam Putih, para pengelola perusahaan yang menangani desain kartu nama, stiker, dan pameran ini belum pernah merasakan duit pendapatan perusahaan. "Gimana nggak, tiap pemasukan harus dipakai buat melunasi utang-utang kami pada ortu," keluh Atik, salah satu pendiri Hitam Putih. Padahal, keuntungan yang bisa didapat dari usaha desain tuh nggak sedikit lho.

Delapan mahasiswa Despro ITS yang mendirikan Sez|tuze, misalnya, bisa membayar sendiri biaya operasional mereka, seperti telepon, air, listrik, dan biaya makan. Dan itu mereka dapatkan dari usaha mendesain undangan pernikahan, suvenir, dekorasi ruangan, front desk perusahaan, maupun dekorasi pameran. Hebat? Memang. Soalnya, sampai sekarang, job Sez|tuze masih didapat melalui mouth to mouth. Tapi, bisnis bisa berjalan lancar. Bisa jadi, kesuksesan itu tercapai karena kemauan para pemilik Sez|tuze untuk memeras keringat mencari perlengkapan kerja. "Mulai dari pasar Turi sampai daerah pinggiran kota, semua kami jelajahi," tukas Andhi, salah satu owner. Buat mereka, bekerja sambil kuliah memang berat. Tapi setidaknya, pekerjaan itu bisa berfungsi ganda. Cari duit dan praktikum gratis. "Malah, kami bisa mereguk lebih banyak ilmu desain ketimbang mahasiswa lain," tegas Putra, salah satu pemilik Sez|tuze, "Soalnya, yang ngumpul kan banyak. Otomatis, otak lebih banyak, ide lebih banyak, dan pertukaran ilmu lebih sering terjadi." (ike)

Berita Terkait