ITS News

Kamis, 30 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

HUMAS BUKAN SEKEDAR "CORONG&quot

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Pada era globalisasi saat ini, peranan humas maupun public relation (PR) tidaklah hanya sebagai "corong" suatu lembaga atau instansi yang ditempatinya. Namun, kekuatan humas ataupun PR menjadi alat tolak ukur kehancuran dan kesuksesan lembaga tersebut. Bahkan, humas diharuskan mampu menanggulangi jika suatu lembaga itu berada dalam kondisi krisis. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh staf pengajar Surabaya Broadcast School (SBS) Bagong Sriyanto dalam pelatihan kehumasan Communication and Public Relation (CPR) training yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS, Sabtu-Minggu (25-26/9) kemarin.

Dalam kesempatannya, Bagong menyampaikan materi "Peran Penting Seorang Humas". Dikatakannya, selain menanggulangi krisis, seorang humas atau PR harus mampu membentuk opini yang menyenangkan dikalangan lembaga maupun masyarakat sekitarnya. "Oleh karena itu, lingkup kerja PR meliputi internal dan eksternal publik. Dengan demikian, bidang garap PR juga bisa masuk kedalam marketing dan publishing," ujar Bagong.

Hal itu, kata Bagong, memungkinkan PR akan selalu berhubungan dengan media massa maupu lembaga lain. Dalam berhubungan dengan media massa, humas atau PR diharuskan untuk bisa menetralisir pendapat dan opini yang telah diterima oleh media tersebut. "Bahkan, kalau memang diperlukan PR harus dapat merubah opini dan mempertahankan opini yang dia kemukakan dengan cara-cara yang tepat dan tidak melewati batasan etika sebagai humas maupun PR," terang pria yang pernah bekerja di TV 3 Malaysia ini.

Sebagai seorang humas atau PR dengan tugas seperti itu, maka bukan tidak mungkin jika setiap saat akan menghadapi kondisi yang mengharuskan dirinya agar lebih mengendalikan emosi. "Seorang humas yang harus menjawab berbagai opini dari media dan masyarakat harus bisa menekan emosi. Jika hal itu tidak bisa dilakukannya, maka berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan akan terjadi, apalagi jika humas tersebut membawa nama sebuah lembaga," kata Bagong.

Menurutnya, setiap kata yang diucapkan oleh seorang humas selalu membawa dampak bagi lembaga yang dibawanya. Diakhir materi yang disampaikannya dalam pelatihan yang diikuti lebih dari 50 peserta itu, Bagong memberikan penekanan bahwa seorang humas atau PR dituntut untuk dapat mengendalikan emosi dan memahami arah komunikasi lawan bicaranya.(sep/bch)

Berita Terkait