ITS News

Minggu, 04 Desember 2022
15 Maret 2005, 12:03

Hima IDE Yang Tidak Mati Ide

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Langit mendung pada hari itu tak menghalangi tekad para panitia Feb Fest 2004, yang terdiri dari mahasiswa Desain Produk ITS, untuk melaksanakan even yang cukup besar ini. Pasalnya acara musik yang diadakan di area parkir kantin ITS ini tidak didukung oleh tenda penonton dan pawang hujan. Meskipun gerimis sempat turun tetapi tekad panitia itu tidak bertepuk sebelah tangan, karena penonton malah melebihi target sukses mereka.

Hal yang patut dibanggakan dari even ini adalah konsep yang menggabungkan parade band dan parade promo band independen (baca : band indie). " Ide ini asli dari kami dan mungkin baru pertama di Jatim," ujar Agustinus salah satu panitia dari acara ini. Awalnya, masih menurut Agustinus, konsep acaranya adalah festifal band dan lomba cheerleaders. Tetapi karena perkiraan anggaran dana yang akan membengkak jika diadakan festival dan juga sulit mendapatkan izin dari institut jika diadakan kompetisi cheer maka tema even diubah menjadi parade band dan parade promo band indie.

Acara musik ini total menampilkan 29 band terdiri dari14 grup untuk parade dan 15 band indie dari sekitar 66 band yang mendaftar. "Itu setelah kita seleksi dan juga mempertimbangkan waktu. Kita diberi batasan maksimal jam 23.00 oleh pihak kampus," terang Anggra humas acara ini. Masih menurut Anggra, peminat acara ini cukup banyak. Baik sebagai peserta parade maupun sebagai sponsor. Pihaknya sampai kewalahan menolak tawaran beberapa perusahaan yang ingin menjadi sponsor utama. Sehingga untuk menyelenggaarakan acara ini panitia tidak meminta bantuan dari pihak jurusan. "Ini membuktikan kita sudah mampu mengangkat pamor ITS dalam dunia entertainmen dan kepercayaan pihak sponsor terhadap ITS," tambah gadis manis berambut panjang ini.

Suksesnya acara ini ternyata juga diakui oleh Arif, salah seorang personil band indie Not 4 Sale yang menjadi salah satu peserta parade ini. Menurutnya, acara ini memberikan banyak pengalaman baru meski tidak ada hadiah seperti festifal pada umumnya. Hal baru itu ialah selama mereka tampil akan disyuting oleh tiga kamera dengan sudut pandang yang berbeda. Selain itu mereka juga tampil cukup lama, sekitar 30 menit, dan men-setting panggung sesuai dengan ciri khas masing-masing. "Ini pengalaman pertama kami main band sambil disyuting," ujar gitaris asal Gresik ini.
Ide unik panitia lainnya, adalah cara mereka mempublikasikan acara ini. Panitia Feb Fest, selain menggandeng sebuah radio untuk promosi juga melakukan konvoi keliling kota Surabaya dengan lima mobil yang penuh dengan tempelan poster acara ini. Inovasi lainnya, dokumentasi even Feb Fest ini akan di-VCD-kan dan disebarkan di beberapa distro-distro di Surabaya. "Kalau ini mendapat tanggapan yang antusias mungkin Feb Fest akan diadakan tiap tahun," tutup Anggra mantap.(m6/m3/har)

Berita Terkait