ITS News

Rabu, 05 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

Gerakan Mahasiswa Indonesia Perlu Samakan Persepsi

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Pasca gerakan reformasi 1998, gerakan mahasiswa mengalami masa-masa stagnan bahkan gerakan mahasiswa, yang notabene bersifat independen, terpecah menjadi beberapa kubu saat penurunan KH Abdurrahman Wahid dari kursi presiden. "Itulah fenomena yang ada," papar Irsyad, presiden BEM Universitas Negeri Surabaya, saat menjadi salah satu pembicara dalam diskusi 'Gerakan Mahasiswa diantara Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan dalam Konteks Kondisi Bangsa Kekinian', Senin (11/11) di Gedung Rektorat.

Arief Fibri, presiden BEM KM UGM, menambahkan bahwa mahasiswa setidaknya terpecah dalam 4 golongan."Harusnya gerakan mahasiswa tetap dijalurnya sebagai gerakan yang moralis dan rasional," papar Fibri. Ia menambahkan, gerakan mahasiswa, menurutnya telah masuk pada sebuah jebakan yang mencoba melemahkan eksistensi mahasiswa.

"Setiap kita akan melangkah melakukan aksi atau penyikapan terhadap suatu masalah, kita selalu takut. Nanti dikira memihak ini itu. Ini melemahkan kita," jelas pemuda berkacamata asal Karanganyar ini.

Lantas bagaimana solusinya? "Kita duduk semeja, kemudian kita samakan persepsi tujuan apa yang akan kita capai. Mari kita renungkan bersama-sama," usul Indra Maulana, presiden BEM Universitas Padjadjaran didepan sekitar 40 peserta diskusi. Dari proses tersebut didapat strength point gerakan mahasiswa. "Nah dari situ kita optimalkan perjuangan kita," tambah Indra.

Solusi lainnnya adalah dengan segmentasi spesialisasi isu. Menurut Arief Fibri, segmentasi isu ini sangat efektif membendung serangan pihak lain. Fibri memberi contoh kota Surabaya yang memiliki banyak universitas, masing-masing harus punya spesialisasi permasalahan yang dipilih. "ITS misalnya memilih isu-isu politis atau Unesa mengambil isu-isu pendidikan. Dan ini akan cocok dipraktekkan pada era desentralisasi," tandas Fibri.(har/rom)

Berita Terkait