ITS News

Sabtu, 04 Februari 2023
15 Maret 2005, 12:03

Filsafat Sains dan Agama

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Mempelajari sains tanpa mengetahui filsafatnya tentunya kurang sempurna. Apalagi jika filsafat sains itu menyangkut tentang keberadaan Tuhan. Meski pada awal mulanya para ahli agama menyatakan tidak ada keterkaitan antara sains dan agama. Tetapi melalui penemuan Galileo Galilei yaitu teropong bintang, maka pandangan tersebut tidaklah benar.

Inilah yang dibahas dalam seminar filsafat sains dan bedah buku, yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Fisika (Himasika) ITS, selama dua hari, Sabtu dan Minggu kemarin (15-16/3).

Menurut, Dr. Agus Purwanto, pembicara dalam seminar ini, pandangan para ahli agama itu masih berpedoman pada Aristoteles. Filsafat yang terkenal dengan teorinya Logus Naturalismnya ini, menerangkan bahwa hanya bumilah yang mengalami perubahan. Karena materi penyusun daripada bumi adalah tanah, air, dan api. Sedangkan planet, bintang, dan bulan terdiri dari unsur eiter, materi yang tidak mengalami perubahan.

"Setetelah Galileo menemukan teropong bintang, ternyata pandangan Aristoteles salah. Karena bulan, planet, dan bintang juga mengalami perubahan. Sebenarnya tidak hanya Galileo, melainkan pada abad ke-16 sudah ada ilmuwan yang berusaha mengalahkan dominasi agama, antara lain Niclaus Corpernicus, Tycho Brahe, dan Johannes Kepler," terang doktor lulusan Universitas Hiroshima, Jepang ini.

Lantas, Newton (1624-1927) mengemukan bahwa alam semesta ini terdiri dua dimensi yaitu ruang dan waktu. Konsep inilah yang mendasari tentang deterministik, artinya segala sesuatunya dapat kita prediksi. "Misalnya kita dari titik A mau ke titik B yang berjarak sekian. Maka kita akan tahu waktu yang diperlukan agar sampai ke titik B dengan kecepatan sekian. Kalau ini jadikan pedoman maka peran Tuhan tidak ada," jelas dosen fisika teoritis ini.

Konsep Newton ini hanya berlaku untuk benda-benda yang bermassa besar saja. Tetapi untuk materi-materi kecil konsep ini tidak berlaku. Maka dengan teori Kuantum dan teori Relativitas pemahaman tentang alam semesta semakin rumit. Meski masing-masing teori saling berhubungan. "Kesemuanya ini, tidak lain untuk mengungkap rahasia dibalik alam semesta ini. Dan bagi kita ini juga usaha untuk mendekat kita kepada-Nya," tegasnya.(rom/bch)

Berita Terkait