ITS News

Rabu, 29 Mei 2024
15 Maret 2005, 12:03

Eddy Yahya, Guru Besar Sel Surya untuk ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

"Tapi waktu itu saya tertarik mengambil dan memperdalamnya karena pada bidang itu dapat dikembangkan pengetahuan fotovoltaik sel surya, yang di Indonesia jumlah sinar matahari sepanjang tahun bisa didapat," katanya, Jumat (17/12) siang. Hanya sayangnya, katanya bernada sedikit kecewa, hingga kini pengembangan semikonduktor untuk fotovoltaik sel surya tidak berkembang dengan baik atau relatif lamban. "Ada banyak penyebab, diantaranya karena pengetahuan tentang semikonduktor dan fotovoltaik sel surya tidak diperkenalkan secara populer di masyarakat sehingga tidak tersosialisasi dengan baik," katanya.

Itulah alasannya, kata ayah dua orang putri ini menjelaskan, ia mencoba mengajak masyarakat melalui pidato pengukuhannya yang disampaikan Sabtu (18/12) dan diberi judul "Pengembangan Peran dan Teknologi Fotovoltaik Sel Surya dalam Kehidupan Masyarakat Abad ke-21" untuk sedapat mungkin memperkenalkan teknologi ini dengan populer.
"Memang, lambannya penelitian dan pengembangan sel surya di Indonesia bukan hanya karena sebab itu saja, tapi juga karena biaya investasi awal yang tinggi dan ini merupakan kendala utama," kata doktor lulusan. Padahal, katanya menambahkan, jika saja bangsa ini serius untuk mengolah energi matahari menjadi energi listrik, sangat boleh jadi krisis listrik atau ketidak tersediaan listrik di daerah-daerah terpencil dapat di atasi.

Doktor lulusan Iowa State University, AS, tahun 1984 ini kemudian mengungkapkan rata-rata cahaya matahari yang diterima di Indonesia mencapai nilai 4,8 KWH per meter persegi per hari, seharusnya benar-benar bisa dimanfaatkan di tengah kian tipisnya cadangan minyak dan terus menurunnya produksi nasional. "Tampaknya teknologi fotovoltaik adalah salah satu pilihan yang utama, baik untuk desa-desa yang jauh dari jaringan PLN saat ini maupun sebagai sumber energi masa depan," katanya.

Untuk itulah pria kelahiran Kertosono, 26 November 1947 ini menyarankan, kepada pemerintah dan institusi terkait dalam pengembangan teknologi fotovoltaik perlu duduk bersama menyusun program untuk mengatasi persoalan sumber energi tersebut melalui beberapa program. "Program yang harus dijalankan hendaknya bersifat long range, paling sedikit 10 tahun, kontinu dan predictable serta hindarkan kebijakan stop-go. Selain itu program yang disusun hendaknya harus terencana dengan baik untuk menuju sustainable fotovoltaic industry," katanya.

Mantan Kepala Lab. Fisika Semikonduktor ini juga mengungkapkan, dibanding Jepang, Negara dimana cahaya matahari tidak didapat sepanjang tahun, Indonesia masih tertinggal jauh di dalam penggunaan cahaya matahari sebagai energi listrik. "Saat ini Jepang adalah Negara penghasil sel surya terbesar di dunia dengan produksi 270,0 MW di tahun 2002 dan diharapkan menjadi 4,82 GW di tahun 2010. Cina juga demikian, dalam sepuluh tahun terakhir ini produksi sel surya meningkat rata-rata 15% per tahun," katanya.

Kini dengan dikukuhkannya Eddy Yahya sebagai guru besar, jumlah guru besar di ITS menjadi 40 orang. Rektor ITS Prof. Dr Ir Mohammad Nuh DEA berharap untuk 2-4 tahun mendatang jumlah guru besar di ITS akan bertambah secara signifikan, sehingga dengan asumsi kenaikan fungsional secara normal dapat dipenuhi dalam waktu setiap dua tahun, maka target penambahan guru besar pada tahun 2007 sebanyak 79 orang akan dapat terpenuhi. "Selama tahun 2004 ini saja ITS berhasil menambah sebanyak 7 guru besar baru, sedang yang masih dalam proses pengusulan hingga kini terdapat 7 orang, dengan rincian 5 orang masih diproses di ITS dan 2 orang sedang diproses di Jakarta," katanya. (Humas/bch)

Berita Terkait