ITS News

Senin, 20 Maret 2023
15 Maret 2005, 12:03

Eddy Yahya : Fotovoltaik pilihan terbaik

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Rapat terbuka Senat Institut Teknologi Sepuluh Nopember sekali lagi mengukir nama seorang tenaga pengajarnya sebagai guru besar. Dia adalah Ir Eddy Yahya MSc PhD, seorang dosen tetap jurusan Fisika FMIPA. Pria berusia 57 tahun ini, Sabtu (18/12) lalu secara resmi dikukuhkan sebagai guru besar ITS dalam bidang ilmu Semikonduktor. Dengan begitu, Eddy adalah guru besar ke-40 ITS sekaligus menambah jumlah guru besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Dalam pidato pengukuhannya, Eddy menyampaikan hasil dari penelitian ilmiahnya dengan judul Pengembangan Peranan dan Teknologi Fotovoltaik Sel Surya Dalam Kehidupan Masyarakat Abad ke-21. Dikatakannya, bahwa pada awal abad ke-21 terdapat dua isu yang penting yaitu peningkatan kemakmuran dan pemeliharaan lingkungan untuk mengentas kemiskinan.

Kedua isu itu sekilas terlihat bertentangan. Dikarenakan dalam usaha peningkatan kemakmuran akan selalu mengarah pada peningkatan industrialisasi yang memicu peningkatan penggunaan energi konvensional. Semua itu pada akhirnya akan menimbulkan masalah bagi lingkungan seperti emisi karbon dioksida yang meningkat serta pemanasan global (global warning system).

Untuk itu, ditekankannya, dunia harus dapat menemukan sumber-sumber energi baru yang ramah lingkungan serta dapat diperbaharui. "Salah satu sumber energi yang merupakan pilihan terbaik adalah teknologi fotovoltaik sel surya," ujar Eddy.

Mengenai Fotovoltaik, doktor lulusan Iowa State University USA ini bercerita, bahwa dengan menggunakan piranti semikonduktor (sel surya ) maka manusia dapat mengubah sinar matahari menjadi sumber energi listrik yang ramah lingkungan. "Dalam bentuk paling sederhana komponen ini berupa dioda dengan dua tipe, tipe n dan tipe p. dua semikonduktor ini bila dikontakkan dengan sempurna akan menghasilkan beda potensial yang pada akhirnya akan menimbulkan arus listrik searah," terang Eddy

Suami dari Dra Dian Anggraeni ini juga mengungkapkan keberadaan fotovoltaik di Indonesia, "Meskipun Indonesia termasuk negara dengan intensitas cahaya matahari cukup tinggi, mencapai 4,8 KWH/m2/hari, keberadaan potensi fotovoltaik masih belum bergaung dan tertinggal dari negara-negara Asia lainnya, seperti Jepang," kata ayah dua orang putri ini.

Ditambahkannya, mengenai kendala penerapan sel surya di Indonesia, disebabkan harga dari satu elemen yang masih relatif mahal. Selain itu, pemerintah saat ini juga masih sibuk berkutat dengan isu memenuhi kebutuhan listrik di daerah terpencil.

Mengingat pentingnya pengembangan sumber energi baru untuk mengganti energi minyak yang kian menipis. Mantan Kalab Fisika Semikonduktor ini menyarankan agar pemerintah dan institusi-institusi yang terkait dalam pengembangan teknologi fotovoltaik bersedia bersama-sama menyusun program untuk mengatasi masalah sumber energi tersebut.

Program tersebut menurutnya harus bersifat jangka panjang dan kontinyu, paling sedikit 10 tahun. lalu, untuk menuju sustainable fotovoltaic industry program ini harus disusun terencana. Dan yang terakhir, dikatakannya, hendaknya program ini dapat menghilangkan culture gap antara fotovoltaik teknologi dengan pemakainya.

Menjelang akhir pidato pengukuhannya, Eddy menekankan tentang pentingnya ilmu semikonduktor. "Untuk mendukung pengembangan sel surya di dalam negeri ilmu semikonduktor juga perlu ditumbuh kembangkan," kata Eddy yang sebenarnya telah menjabat guru besar sejak 1 Agustus 2004, menurut SK pengangkatannya.(asa/tov)

Berita Terkait