ITS News

Sabtu, 20 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Dua Kali Diwisuda, Dua Kali Cumlaude

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Bagi Yudhi Lastiasih, putri pertama Wakil Kepala Polisi Daerah Jawa Tengah (Waka Polda Jateng) ini, predikat cumlaude yang diperolehnya pada wisuda kali ini adalah untuk kali kedua selama ini menuntut ilmu di ITS. Pertama, kata ibu satu orang putri ini, saat ia diwisuda di program S1 dan kedua saat ini ketika ia menyelesaikan program S2. "Ini mungkin semuanya serba kebetulan. Tapi apa yang saya peroleh saat ini jauh lebih berat ketimbang saat saya memperolehnya di program S1. Ini karena sekarang saya disamping harus belajar juga mengurus anak dan suami," kata ibu dari Fitria ini.

Itulah sebabnya, kata isteri dari Catur Hendi ini, dirinya harus pandai-pandai mengatur waktu antara belajar, mengurus anak dan suami. "Biasanya kalau ada tugas kuliah saya baru bisa mengerjakan setelah anak saya tidur. Sementara saat kuliah saya berusaha tidak ada ganjelan dan sesuatu yang tidak dimengerti saya bawa pulang. Kalau bisa setelah keluar dari ruang kuliah semuanya sudah saya mengerti," katanya.

Alumni SMA Negeri 1 Pati ini pun menceritakan alasan ia melanjutkan ke jenjang stata S2. Sekali-kali bukan karena ilmu yang telah didapatnya di jenjang S1 kurang untuk bekal bekarja, tetapi karena tuntutan bagi seorang wanita lulusan teknik sipil yang sudah berkeluarga sulit mendapatkan pekerjaan jika tidak menjadi konsultan sendiri. "Setelah lulus saya pernah bekerja dan ilmu yang saya dapat sudah cukup, tapi karena harus mengikuti suami ke Jakarta, saya pun mengundurkan diri. Kini setelah kembali ke Surabaya saya ingin bekerja lagi, tapi peluang saya amat kecil karena sudah berkeluarga. Atas dasar itulah saya kemudian melanjutkan ke jenjang S2 untuk bekal menjadi konsultan atau dosen," katanya.

Lain lagi kisah Bima Sena Bayu Dewantara, yang kini menjadi asisten dosen di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) – ITS. Sebelumnya ia lulus dengan predikat cumlaude saat menyelesaikan studinya di PENS dengan IPK 3,56, setelah itu ia diberi kesempatan oleh almamaternya untuk mengabdikan ilmunya di kampus.

"Awalnya saya tidak terpikir untuk menjadi dosen, itu karena saat saya menginjak di semester 3 dari 6 semester yang harus dijalankan di program diploma, saya telah mendapatkan bea siswa dari Sony Electronic, dimana setelah lulus akan ditempatkan di PT Sony Manufacturing Indonesia di Bekasi. Tapi saat lulus kesempatan saya di sana tertutup, karena memang pas terjadi krisis. Maka jadilah saya kemudian mengabdikan ilmu pada almamater," kata anak kedua dari tiga bersaudara alumni SMA 3 Malang ini.

Ia pun kemudian menjalani hari-harinya sebagai asisten dosen di laboratorium. Tidak lama setalah itu ia diberi kesempatan untuk mengikuti training di Nagaoka National College of Technology, Jepang, selama setahun. "Pulang dari sana sebenarnya saya ingin melanjutkan ke S1 program lintas jalur, tapi saya malah disarankan untuk melanjutkan ke Program D4, dengan alasan jenjang dan kepangkatan dari lulusan D4 juga sama dengan S1," katanya.

Saya ingat benar waktu itu yang menyarankan itu Pak Nuh, saat masih menjabat sebagai Direktur PENS. "Maka jadilah saya kemudian melanjutkan ke Program D4 mengambil bidang studi Teknologi Informasi. Padahal saya sebelumnya mengambil jurusan listrik industri. Tapi syukurlah ternyata yang berkembang saat ini memang teknologi informasi," katanya.

Itulah sebabnya, katanya menambahkan, tugas akhir yang diambilnya saat ini berjudul "Aplikasi Pengenalan Wicara untuk Perintah Nirkabel Robot Mikro Mouse" mencoba menggabungkan pengetahuan listrik industri dengan teknologi informasi. "Tugas akhir yang saya persiapkan ini sangat luas penggunaannya, misalnya, dapat digunakan untuk memerintahkan on-off AC di ruangan cukup dengan perintah suara," katanya. (Humas/bch)

Berita Terkait