ITS News

Selasa, 16 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Drs Soehardjo, dosen nihil yang dikagumi

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Adalah Dra Farida AW, mahasiswa Drs Soehardjo yang kini menjadi rekan dosen di Jurusan Matematika FMIPA ITS. Wanita berkacamata ini menuturkan saat itu, Soehardjo terkenal sebagai dosen killer. Pelit memberi nilai, dan soal ujian yang diberikan teramat sulit. "Sehingga saat pengumuman siapa yang lulus mata kuliah beliau, tertulis nihil, bayangkan!," kenang beliau seraya tersenyum. Kemudian di kalangan mahasiswa saat itu muncul lelucon untuk mengganti nama menjadi nihil. "Ya… kalau namanya nihil kan berarti lulus," ujar Farida, sekali lagi dengan tersenyum.

Pada kesempatan yang sama, yakni Seminar Nasional Matematika dan peluncuran buku biografi Drs Soehardjo, Sabtu (4/12) kemarin, Soehardjo pun menanggapi julukan dari mahasiswanya tersebut. "Soalnya sebenarnya tidak susah. Padahal materinya juga sudah pernah dikeluarkan di ujian tentamen (ujian pendahuluan yang dulu dilakukan sebelum ujian akhir, Red)," ujarnya. Ia juga tidak tahu mengapa mahasiswanya merasa soal yang diujikannya cukup susah.

Bahkan Soehardjo menyebutkan, karena ingin lulus, ada mahasiswa yang mencoba "menerawang" soal ujiannya dengan kekuatan magis. Berhasil pada beberapa dosen, namun tidak dengan dosen yang mengajar di ITS sejak tahun 1966 ini. "Dia mengaku heran pada saya karena tidak bisa menerawang soal yang saya buat. Lha wong dia nerawangnya sore, saya buat soalnya pagi-pagi menjelang ujian," kelakar Soehardjo mengenang.

Tak hanya dosen "nihil", Soehardjo pun terkenal sebagi dosen diktator. Menurut pria kelahiran Magetan, 27 Maret 1939, julukan itu diberikan karena saking seringnya ia membuat buku diktat. "Tapi selain itu, ya karena memang diktator," canda beliau.

Kemampuan mengajar dosen yang memiliki 2 putra ini memang tak perlu diragukan. Soehardjo mengaku tak pernah membawa buku ke ruang kuliahnya. Hanya secarik kertas sebagai tambahan, itu pun kalau dirasa perlu. Dengan ketekunannya dalam mengajar, ia pun pernah ditawari mengajar di Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974-1976. Sebagai TKI atau tenaga kerja intelektual, begitu ia menyebutnya. "Disana saya juga diminta mengurus program penerjemahan istilah matematika ke bahasa Melayu. Disana bahasa Melayu jarang digunakan, mahasiswa lebih pintar berbahasa Inggris," kenangnya.

Perhatian Soehardjo pada pendidikan matematika di SMU juga sangat dikagumi rekan seprofesinya. Seperti yang terlihat pada Seminar Nasional Matematika kemarin, terlihat diantaranya guru SMUN 5 Surabaya yang berbincang akrab dengan beliau. "Kecintaan terhadap matematika haruslah dikembangkan dari bawah (SMU, Red)," jelasnya.

Pada seminar yang diadakan di lantai 2 perpustakaan ITS tersebut, juga dilakukan peluncuran buku biografi Drs Soehardjo. Buku bersampul hitam-merah tersebut berjudul "Hidup Lurus, Tak Risau Rumus" (ftr/bch)

Berita Terkait