ITS News

Kamis, 06 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

Dr.Ir. Abdullah Shahab, MSc : Maksimalkan Kiprah & Konstribusi

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kehidupannya dilakukan dengan sifat kesederhanaan yang tetap ia junjung, disaat banyak dosen pengajar dan mahasiswanya mengendarai mobil ia tidak malu untuk mengendarai sepeda pulang pergi dari tempat tinggalnya. Prinsip hidupnya adalah melaksanakan tugas yang telah diemban dengan sebaik mungkin serta berusaha untuk meningkatkan kiprah yang telah ia punyai agar bermanfaat bagi lingkungan tempat ia berada.

Laki laki kelahiran lawang 48 tahun lalu tepatnya 17 April 1952 ini sudah sering tampil sebagai pembicara di berbagai event penting baik event itu diselenggaraan oleh lembaga kemahasiswaan maupun event resmi yang diselenggarakan oleh Institut, sebagai contoh adalah tampilnya beliau sebagai pembicara pada upacara penerimaan mahasiswa baru ITS.

Kuliah di Jurusan Teknik Mesin merupakan awal bagi dirinya untuk menapaki perjalanan hidupnya. Gelar insinyur diperoleh dari ITS tahun 1978 kemudian gelar master dari University of Wisconsin Madison USA dan gelar doktor diperoleh dari Ecole Centralle de Nantes Perancis.

Dalam melihat kehidupan berusaha menunaikan tugas sebaik mungkin sedangkan dalam menunaikan aktifitasnya beliau mempunyai pandangan tersendiri tentang kehidupan ini. "Sebagai manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna manusia dibebani tugas dan seorang manusia perlu untuk menunaikan tugasnya dengan sebaik mungkin," jelas staf pengajar S2 & S3 di lingkungan Teknik Mesin ini.

"Menurut saya hal yang terpenting adalah menunaikan semua kewajiban yang telah kita emban sehingga jika kita berada pada suatu sistem misalnya masyarakat maka masyarakat akan merasa bahwa, dengan adanya saya ke dalam masyarakat itu lebih baik daripada tidak adanya saya. Jangan sampai karena kita berada pada lingkungan masyarakat malah akan menimbulkan rasa ketidakbahagian mereka," tegas dosen yang mengaku selalu menyempatkan diri berolah raga setiap hari ini. Konstribusi yang diberikan tidak perlu muluk-muluk, hanya sebatas kemampuan, walaupun yang dapat kita lakukan hanya kecil namun yang terpenting adalah manfaat yang timbul.

"Kita hidup dan diciptakan oleh Tuhan ,tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup untuk mengejar kebahagian hidup, meski kebahagian ini bukan disalah artikan sebagai kebahagian duniawi saja, seorang dermawan akan merasa bahagia jika ia bisa memberi sesuatu kepada orang yang memerlukan. Oleh karena itu untuk memperoleh kebahagiaan yang diidam-idamkan perlu adanya suatu falsafah hidup yang akan menjadi acuan untuk berbuat sehari-hari," jelas ayah dari tiga anak ini.

"Terbentuknya falsafah hidup seseorang muncul berdasarkan pengalaman yang ia peroleh serta pengenalan diri yang telah ia lakukan. Seseorang bisa saja mengatakan tidak punya falsafah hidup karena ia sendiri belum mengenal lebih jauh tentang pribadinya.

Ditengah kesibukannya sehari-hari, beliau mengaku tidak pernah ada perselisihan mengenai prinsip dengan anggota keluarganya. Beliau juga mengatakan bahwa ditengah-tengah kesibukannya ia selalu meluangkan waktu untuk keluarganya. "Saya memberi waktu tersendiri untuk menyempatkan bermain-main dengan anak saya," jelasnya. "Saya selalu menyempatkan diri untuk melihat-lihat hasil pendidikan yang ia dapat baik ngajinya, belajarnya, dll." tegasnya. Terutama masalah sosial anak, beliau sangat peduli dan masih merasa bahwa didikannya belum berhasil jika anaknya mendapat rangking satu tapi belum mempunyai rasa iba terhadap peminta-minta (rasa sosial). "Saya merasa bahwa untuk menjadi orang yang baik hal yang pertama dilakukan adalah bersikap baik terhadap keluarga dahulu, jelas Dr. Abdullah Shahab mengakhiri pembicaraan. (muht/bch)

Berita Terkait