ITS News

Rabu, 29 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Digasak Bus, Dosen ITS Meninggal

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kamis, 23/05/2002
SURABAYA – Pria kelahiran 17 Agustus 1949 ini meninggal akibat mobil yang ditumpanginya ditabrak bus Restu jurusan Malang-Surabaya, kemarin.

Peristiwa tragis itu berawal saat Maksum hendak memberikan training maintenance (latihan pemeliharaan) di PT H.M. Sampoerna, Pandaan. Kala itu, mobil jemputan dari PT H.M Sampoerna yang ditumpanginya sudah hampir sampai di pintu gerbang pabrik. Namun, ketika mobil berbelok menuju gerbang pabrik, ada bus Restu yang melaju kencang dari arah Malang. Tak terhindarkan, bus menabrak mobil yang ditumpangi warga Jalan Teknik Arsitektur perumahan ITS itu.

Kepergian Maksum yang mendadak itu sangat mengejutkan keluarganya. Apalagi, tak ada tanda-tanda khusus bahwa dosen itu akan pergi selamanya. Saat pergi ke kampus pagi harinya, seperti biasa dia pamit pada istrinya. "Tadi kami berpisah di sini. Bapak bilang nanti kita ketemu lagi ya," kata Faida Fatimiyah, istri Maksum sembari menangis di teras rumahnya.

Faida tampak shock atas kepergian suami tercintanya itu. Air matanya tak henti-hentinya membasahi pipinya. Saat ingat bahwa suaminya telah tiada, dia pun pingsan. Saking kagetnya, berjalan pun Faida harus dibantu beberapa tetangganya. Wanita 46 tahun itu juga sering berkata, "Ini terlalu cepat. Saya tidak siap."

Tak hanya Faida, keempat anak Maksum juga shock. Mereka adalah Faizal Chandra, Linda Indrayanti, Irma Ratna Adianti, dan Chilaliyah Nur Sabrina. Yang paling tak bisa menyembunyikan kesedihannya adalah Irma. Dia selalu menangis dan memeluk teman-teman yang menyalaminya untuk berbelasungkawa.

Sedangkan Linda anak kedua pasangan Maksum- Faida, lebih mampu menguasai diri. Hanya saja saat ditanya mengenai kepergian bapaknya, wanita 25 tahun ini, tak bersedia berkomentar. "Nanti saja deh, saya masih sibuk ngurus adik-adik saya," terangnya sesaat sebelum berangkat ke Socah, Bangkalan, tempat persemayaman terakhir Maksum.

Kepergian Maksum yang mendadak itu tak hanya disesali keluarganya. Pihak universitas juga merasakan kehilangan dosen terbaiknya. "Pak Maksum itu orangnya disiplin. Dia juga menjadi teladan bagi kami dosen-dosen di sini," ungkap Ir Sudoyono Kromodiharjo MSc PhD, rekan sejawat Maksum. Meski pria kelahiran Bangkalan itu sering pergi keluar kota, dia tidak lalai untuk tetap memberikan kuliah pada mahasiswanya.

Hal itu juga dilakukannya kemarin pagi sebelum berangkat ke Pandaan. Maksum yang juga dosen di Sekolah Tinggi Teknik Angkatan Laut itu, tetap memberikan materi kuliah pada mahasiswanya. "Almarhum menyempatkan mampir ke kampus sebelum dijemput pihak Sampoerna," ungkap Sudoyono.

Tak jarang Maksum memberikan kuliah di hari Sabtu. Padahal, saat itu di kampus sedang tidak ada perkuliahan. Meski begitu tak seorang mahasiswa pun yang memprotes kebijakan Maksum. "Mereka malah senang. Soalnya mereka tidak kuliah dengan percuma. Banyak mahasiswa yang kagum pada kedisplinan almarhum," kata dosen yang dekat dengan mahasiswa ini. (dhe/ani)

Berita Terkait