ITS News

Jumat, 12 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Civitas Akademika ITS Dapat Siraman Rohani Ustadz Hussein Hamid Al-Attas

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Dalam ceramahnya yang panjang lebar mengisahkan tentang kisah Nabi Yusuf A.S. itu, Hussein Hamid Al-Attas meminta apa yang telah disampaikannya itu dijadikan sebagai sebuah pelajaran berharga didalam memasuki kehidupan saat ini. "Ketahuilah bahwa kita dituntut untuk bersabar, tidak sombong, berbuat baik dan selalu memberikan maaf kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita sekali pun. Bahkan Allah SWT mengajarkan untuk mendoakan terhadap orang-orang yang telah berbuat jahat sekalipun kepada kita," katanya.

Dijelaskannya, apa yang telah dialami oleh Yusuf A.S. itu merupakan contoh yang harus diteladani. Betapa Yusuf telah dianiyaya oleh saudara-saudara kandungnya sendiri, oleh ibu angkatnya sendiri dan oleh kaum perempuan dizamannya. "Tapi Yusuf tetap bersabar, bahkan karena terlalu sabarnya, ia meminta kepada Allah untuk dipenjara agar bisa terhindar dari perbuatan jelek dan keji," katanya.

Alhasil, meski di penjara dia masih bisa berbuat sesuatu kebaikan, menyelamatkan negeri dari kekeringan dan peceklil yang berkepanjangan, dengan cara menterjemahkan mimpi-mimpi pemimpin negeri itu, dan saat Yusuf menduduki jabatan yang cukup penting, tidak ada sedikit pun rasa ingin membelas dendam, melainkan memintakan ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah diperbuat saudara-saudaranya serta ibu angkatnya.

Alumni Al-Azhar, Mesir yang kini aktif bersama-sama Prof Quraish Sihab dalam sebuah kelompok kajian tafsir Al-quran ini kemudian mengatakan, dizaman Rasulullah SAW, apa yang dialami oleh Yusuf A.S. juga terjadi, ketika Muhammad SAW memperoleh kemenangan atas kaum Kafir Quraish di kota Mekkah. "Betapa kejinya sesungguhnya perbuatan Hindun isteri Abu Sofyan yang telah membunuh dengan membabi buta atas diri Hamzah, tapi Rasulullah SAW tidak membalasnya, melainkan memaafkannya dengan cara yang jauh lebih arif, dimana menempatkan Abu Sofyan sebagai orang yang bisa menyelamatkan orang-orang kafir manakala bersedia masuk ke rumah Abu Sofyan selain Baitullah," katanya.

Niscaya, kata Hussein menjelaskan, jika umat Islam bisa berbuat seperti apa yang telah diperbuat Rasulullah SAW, bisa memaafkan, berlapang dada, terhadap sesama muslim atau non-muslim, Islam akan benar-benar menjadi rahmatan lilalamin. "Kenapa kita mesti bisa memberikan maaf, karena sesungguhnya tidak ada setiap anak Adam yang tidak pernah berbuat dosa. Sehingga dalam Islam sesungguhnya tidak ada sesuatu perbuatan yang ditujukan untuk kepentingan golongan, partai, kelompok, yang ada adalah untuk kepentingan bersama. Jadi tidak perlu membuat Koalisi Kerakyatan untuk menandingi Koalisi Kebangsaan, tapi marilah kita dukung Presiden kita jika memang dia benar-benar ingin menegakkan kebenaran, dan kita ingatkan jika menyimpang," katanya.

Menyinggung tentang sikap putus asa, Hussein yang belajar selama delapan tahun di Al-Azhar, Mesir mengatakan, merupakan sikap yang juga harus dijauhi oleh umat Islam. "Islam tidak mengenal putus asa dan bermalas-malasan, Islam selalu optimis tentang masa depannya, karena itu harus selalu berusaha," katanya. Karena itulah, katanya menambahkan sambil mengutip sebuah ayat dalam Surat Az-Zumar, ayat 53, bahwa Allah SWT meminta kepada hamba-hambanya yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri pun, janganlah berputus asa dari ramhat Allah, karena Allah-lah yang Maha pengampun lagi Maha penyayang.

Tiga Cara Meminta Maaf
Sebelumnya dalam sambutan acara halal bi halal yang sekaligus merupakan acara penutupan rangkaian kegiatan Ramadan di Kampus 1425 H, Rektor ITS, Prof. Dr.Ir. Mohammad Nuh DEA mengatakan, ada tiga cara dalam meminta maaf, pertama, dengan cara ditipek atau ditutup. Cara ini tentu saja meski sudah dihapus tetap meninggalkan bekas, dan bahkan kalau diterawang bidang yang sudah ditipek atau ditutup tadi, tetap terlihat bekasnya.

Cara kedua, kata Rektor, dengan cara disetip atau dibusek, cara ini juga tetap meninggalkan bekas dan kadang kala saat menghapus digunakan cara-cara kasar, sehingga prosesnya menyakitkan. Sedang cara ketiga, melalui cara membuang atau menyobek kertas yang sudah salah tadi dan menggantikannya dengan lembaran baru. Artinya, melupakan semua kesalahan yang telah diperbuat dan memaafkannya tanpa ada bekas dan perasaan apa pun. "Cara ketiga inilah sesungguhnya hakekat dari sebuah acara maaf-maafan dalam ber-Idul Fitri," katanya. (Humas/bch)

Berita Terkait