Yang menarik, melalui penelitiannya, Hery berhasil menciptakan alat berupa detektor rasa sakit yang sangat berguna bagi dunia kedokteran, terutama kedokteran gigi.
Menurutnya, ide untuk menerapkan teori artificial intelligence ke dalam Detektor Rasa Sakit ciptaannya tersebut, muncul saat dia mengantarkan anaknya ke dokter gigi. "Anak saya berteriak kesakitan saat giginya dibor dengan alat bor gigi," ujar pria 45 tahun ini.
Dari sinilah, Hery berpikir, sebenarnya rasa sakit pasien bisa dicegah, jika alat yang dipakai dokter dilengkapi dengan semacam detektor pintar.
"Nah, detektor inilah yang akan membaca sinyal dari otak, saat pasien mulai merasa kesakitan," jelasnya. Setelah terbaca oleh detektor, secara otomatis tekanan atau daya dari alat kedokteran tersebut akan berkurang, sehingga tidak sampai membuat pasien merasa kesakitan.
Menurut dia, sebenarnya prinsip kerja detektor yang didasarkan pada artificial intelligence juga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Pria yang meraih gelar Ph.D dari Osaka City University, Jepang ini lantas mencontohkan prinsip kerja artificial intelligence dalam rice-cooker. "Memasak dengan rice cooker akan menjadi lebih praktis dan hemat. Karena bisa secara otomatis mengatur daya listriknya, saat beras sudah matang," urainya sambil tersenyum.(fey)
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui dukungan
Surabaya, ITS News — Tingginya risiko kebencanaan serta ancaman degradasi lingkungan di kawasan pesisir menjadi perhatian serius sivitas akademika
Kampus ITS, ITS News — Dalam upaya mewujudkan visi ITS Top 300 Dunia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menegaskan
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses menggelar try out ujian masuk perguruan tinggi sebagai