ITS News

Kamis, 08 Desember 2022
15 Maret 2005, 12:03

‘CHANGE’, KUNCI SUKSES

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

‘Change’ menurut M. Nuh, Rektor ITS, merupakan kunci utama kesuksesan. Itu ditegaskannya dalam seminar motivasi ‘be the best and achieve your personal success’ di Graha Sepuluh Nopember kemarin (18/9). "Kita harus berubah untuk sukses," tegas mantan Direktur Politeknik Elektronika, ITS, itu.

Alhasil, untuk meraih kesuksesan itu, ITS mulai melangkah dengan jargon ‘ITS rindu generasi muda yang cerdas dan syahdu’. Dengan jargon baru itu, ITS diharapkan mampu meluluskan sarjana-sarjana yang tidak hanya menang dalam kuantitas tapi juga unggul dalam kualitas.

Namun, perubahan menuju sukses, tidak begitu saja bisa dilakukan. Melainkan harus dilatarbelakangi dengan informasi yang memadai, daya kreativitas dan inovasi, serta kemauan untuk merubah pola kepemimpinan. "Kesemuanya itu, akan menumbuhkan motivasi untuk berubah," terang Nuh. Motivasi itulah yang akan memperlancar jalan menuju kesuksesan.

Masih di tempat yang sama, seorang pemimpin atau senior, menurut Nuh, harus mampu menjadi pemompa motivasi bagi seniornya. Mampu melihat ke depan merupakan salah satu caranya. Jangan terjebak dengan myopi (rabun dekat). "Apalagi untuk mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa," terang Nuh. Mengutip Cak Nur, Nuh mengatakan, pemuda tidak punya masa lalu. Hanya masa depan. Karena itu, generasi muda harus mampu melihat jauh ke depan. "Kalau sudah tua seperti saya…baru punya masa lalu," jelas Nuh.

Di samping itu, kemampuan untuk berbuat sesuatu yang dilandasi oleh pikiran cerdas dan pribadi yang santun perlu dimiliki oleh seorang pemimpin atau senior. Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan stimulasi-stimulasi kepada bawahannya untuk optimis. Karena itu, lepas dari politik, Nuh tidak sependapat dengan adanya pemimpin yang mengeluh di hadapan bawahannya. "Bawahannya akan kalut dan bingung, mau apa dan kemana," tandas Nuh. Bisa jadi, semua yang telah direncanakan akan berantakan dan menuai kegagalan.

Tak kalah penting, pemimpin atau senior, harus mampu menyakinkan bawahannya. Dengan apa? Salah satunya dengan penghargaan. Nuh menyinggung soal ospek yang dinilainya belum mampu memberikan penghargaan kepada mahasiswa baru (maba). "Selama ini, cenderung digunakan tekanan-tekanan untuk memunculkan daya kritis maba," ujar Nuh. Sehingga yang timbul adalah daya untuk melawan dan tradisi menggunakan cara yang sama untuk maba-maba selanjutnya. "Tradisi itulah yang hendak kita luruskan," tekan Nuh. (rin/bch)

Berita Terkait