ITS News

Selasa, 04 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

Catatan Indonesia Challenges (2-Habis) : Meski Masih Hutang, IC II Sudah Digagas

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Bukan mahasiswa kalau tidak nekat. Ungkapan ini pas diberikan kepada para . Buktinya, meski penyelenggaraan IC yang pertama ini masih menanggung hutang, mereka sudah menggagas untuk menyelenggarakan even dua tahunan ini untuk yang kedua kalinya. Bahkan mereka berkeinginan kegiatan untuk kedua kalinya nanti akan digabungkan dengan kegiatan yang berskala internasional.

"Inilah keinginan kami, tentu saja bukan kami lagi yang akan terlibat, tapi para junior kami yang pada kepanitiaan ini juga sudah dilibatkan," kata Mangoloi M.S, ketua panitia. Mangoloi mengakui pada pelaksanaan IC untuk pertamakalinya ini panitia bukan hanya kekurangan dana tetapi juga harus siap-siap menanggung kerugian.

Itu karena beberapa sponsor yang telah menjajikan untuk mengalokasikan dananya semuanya mundur, padahal panitia telah menggunakan persetujuan dari menteri Pariwisata dan Kebudayaan. "Tapi semuanya tak ada yang berminat ikut memberikan sponsor, maka jadilah panitia berhutang ke sana ke mari," katanya.

Tapi, kata mahasiswa yang pernah mengikuti kegiatan Maritime Challenges di AS ini, ia yakin pada pelaksanaan berikutnya akan jauh lebih mudah untuk menggalang dana dari pihak sponsor, itu karena kita sudah membuktikan kalau kegiatan ini sukses dan berhasil.

Bukan itu saja, Mangoloi juga berkeyakinan jumlah peserta yang bakal terlibat pada pelaksanaan kedua nanti akan jauh lebih banyak. "Kami yakin itu, karena mahasiswa peninjau yang ikut kali ini cukup antusias
berpartisipasi dan mereka janji akan ikut setelah menyaksikan kegiatan ini begitu menarik dan cukup membawa kesan," katanya.

Alasan lain, katanya menambahkan, pihak panitia punya waktu cukup lama untuk mensosialisasikan kegiatan ini baik kepada calon sponsor maupun peserta. "Kami yakin pelaksanaan kedua nanti jauh lebih baik, apalagi kami juga sudah menerima tawaran dari salah satu pengelola tempat wisata
yang siap lokasinya dijadikan arena lomba Indonesia Challenge. Kini tinggal kesiapan para panitia berikutnya. Dalam bayangan kami, kalau pada pelaksanaan ini kami hanya butuh satu KRI untuk mengangkut peserta dan
perahunya, maka pada pelaksanaan mendatang mungkin dua atau tiga KRI," katanya optimistis.

PERLU DILESTARIKAN
Mengamati serangkaian pelaksanaan IC pertama ini, kiranya kita memang perlu melestarikan kegiatan ini. Seperti dikemukakan oleh Pembantu Rektor III ITS,
Ir Achmad Jazidie MEng PhD dalam acara pembukaan, sudah saatnya bangsa ini bangkit melalui laut, oleh karena itu kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk membangkitkan cinta laut perlu terus dilakukan. "Ini amat
penting, karena negara kita sebagian besar atau dua pertiganya terdiri atas lautan. Tanpa kecintaan kita pada laut, maka kelak laut yang kita miliki hanya akan dikuasai oleh bangsa lain," katanya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Komandan KRI Teluk Banten 516, Letkol Laut (P) Bambang Kusuma Nugroho. Menurutnya, apa yang dilakukan para mahasiswa dalam kegiatan Indonesia Challenges ini perlu didorong dan diberikan wadah. "Kami sangat mendukung sekali kegiatan ini, karena akan dapat menanamkan cinta laut. Sebagai calon-calon memimpin bangsa kepedulian mahasiswa sejak dini terhadap laut, buat kami punya harapan besar nantinya mereka tidak lagi meremehkan kegiatan-kegiatan yang ada di laut," katanya.

Bambang menceritakan, dalam perjalanan peserta dari Armatim di Dermaga Ujung Surabaya ke lokasi lomba di Bali, pihaknya selalu memberikan pengetahuan tentang kehidupan di laut serta persiapan-persiapan apa yang harus dilakukan ketika harus berlayar. "Saya pikir dengan cara seperti ini para mahasiswa akan lebih bisa memahami tentang laut, tidak hanya teori di bangku kuliah tapi langsung praktek di tengah laut," katanya.

Karena itu Bambang juga sangat setuju jika kegiatan berikutnya dipersiapkan lebih matang lagi sehingga bisa melibatkan lebih banyak peserta. Apa yang dikemukakan Letkol Bambang bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori di bangku kuliah tapi langsung praktek, ada benarnya. Betapa tidak, ketika KRI Teluk Banten dihantam badai Frank sesaat setelah meninggalkan perairan Surabaya, dalam perjalanan menuju Tanjung Benoa, Bali, banyak mahasiswa yang menyadari betapa beratnya kehidupan di laut. "Memang saat
itu bukan hanya para mahasiswa saja yang merasakan gananya badai Frank, tapi para ABK juga banyak yang mabuk laut. Tapi dari situ para mahasiswa kemudian sadar betapa beratnya tugas untuk menjaga laut," kata Bambang.

Mungkin berkat itu pulalah jika kemudian Tim Bagas dari Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya berhasil memperoleh penghargaan tertinggi (Spirit of the Indonesia Challenges) dalam kegiatann ini. Betapa tidak, sejak awal, para peserta memang sudah menjagokan UHT yang meski menggunakan kapal kayu tradisional sewaan milik nelayan di Kenjeran, bakal keluar sebagai juara. Ini terlihat dari keseriusan para anggota tim didalam menimba ilmu dari para nelayan sebagai pemilik kapal yang disewanya. Hampir di waktu-waktu senggang para anggota tim selalu berkomunikasi dengan para nelayan yang memang sengaja diikutkan untuk memberikan arahan sebelum lomba berjalan.

"Mereka serius dan mau belajar meski kepada nelayan sekalipun. Tim UHT tidak hanya berteori tapi juga mendapatkan ilmu langsung dari para nelayan, disitulah letak keunggulan mereka," kata salah seorang peserta.

Hal itu diakui juga oleh Eko Rian salah seorang anggota Tim Bagas UHT. Menurutnya, apa yang dilakukanya dengan cara menimba ilmu dari para nelayan secara langsung tidak lain untuk memadukan antara teori yang ia peroleh di bangku kuliah dengan praktik di lapangan yang sudah dilakukan oleh nelayan. "Hasilnya memang kami bisa lebih unggul. Itu sebabnya kenapa kami harus membawa para nelayan ikut dalam rombongan tim dan membiayai mereka," katanya. (Humas – ITS, 11 Februari 2004)

Berita Terkait