ITS News

Sabtu, 26 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

Cak Durasim di Kantin ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Belasan Seniman/wati dari dalam dan luar negeri mengadakan Kunjungan Apresiasi Seni di Kantin Pusat ITS Sukolilo, Selasa (18/09) kemarin. Dalam kunjungan sosialisasi Festival Cak Durasim itu, digelar beberapa nomor yang akan tampil pada Festival tanggal 4-28 Oktober 2001 mendatang.

Apresiasi seni itu antara lain menyuguhkan monolog ‘Kuku Bima’ oleh Bagus Putuparto, dengan iringan keyboard (oleh Gigih, mahasiswa Tek. Fisika ITS), Biola (Hari Biola, seniman musik), perkusi (Fitra), dan Backing Vocal oleh Jarot B. Darsosno (seniman teater). Turut tampil seniman lokal lain seperti: Sosiawan Leak (sastrawan), Reog Dhodok Tulung Agung (seni tari), dan Heri Lentho (seniman tari). Kunjungan menjadi lebih menarik dengan hadirnya dua seniwati mancanegara: Eryn Schon (teater tari) dari Los Angeles-USA, dan Uki Naka (tari) dari Jepang.

Heri Lentho selaku koordinator kunjungan, menjelaskan bahwa kunjungan ini diadakan karena mereka (seniman – red) merasakan kurangnya apresiasi seni tradisional dan kontemporer dikalangan mahasiswa dan pelajar selama ini. "Selain itu, kami juga mensosialisasikan ajang seni internasional dengan menampilkan beberapa nomor yang akan ikut ambil bagian dalam Festifal nanti." papar Heri yang mewakili pihak manajemen Festifal Cak Durasim II 2001. "Apa yang kami tampilkan disini mungkin tidak sampai 5 % dari apa yang nantinya dipersembahkan oleh ratusan seniman baik dalam maupun luar negeri pada acara Festifal." promosi Leak kepada mahasiswa yang membanjiri Kantin sejak pukul 13.00 WIBB.

Selain menggelar karyanya, para seniman juga membuka dialog dengan pengunjung tentang permasalahan seni, dibawakan oleh Heri Lentho. Dialog itu membahas tentang ‘bagaimana cara menikmati seni’, serta ‘apakah seni tradisional -yang biasanya menawarkan unsur mistik- tidak dapat mengikuti perkembangan jaman’. Namun setelah salah satu mahasiswa menanyakan miss Erryn Schon tentang perkembangan seni tradisional Amerika, arah dialogpun bergulir pada mahasiswi seni tari Cornish of College, Seattle-USA ini.

Seniwati berambut pirang ini mengaku amat tertarik dengan kesenian Indonesia, terutama seni tari yang menjadi bidangnya. "I’m interested in Indonesian traditional dancers personality, how they could control their body and even speak clearly when they dance, and I want to see the dances more and more." ujar Eryn pada pengunjung.

Acara hasil kerjasama Taman Budaya Jatim dengan managemen Festifal Cak Durasim II 2001, Persatuan Seni Sepuluh Nopember (SaNiSeNo) ITS dan LMB ITS itu berakhir sekitar pukul 15.30 BBWI.

Menurut Agung, salah satu panitia penyambut, kerjasama seperti ini memang diperlukan dalam mengembangkan wacana apresiasi seni dikalangan mahasiswa khususnya di ITS. "Ini sekaligus menunjukkan ITS sebagai kampus inklusif." tutur Agung.(ct)

Berita Terkait