ITS News

Jumat, 19 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

BTN TARGETKAN KREDIT 4,08 TRILYUN PADA 2005

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Beberapa tahun belakangan ini, pencapaian penyediaan rumah terhadap target yang ditetapkan kurang menggembirakan. Banyak hal yang melatarbelakangi kurang bagusnya hasil pencapaian tersebut. Salah satu alasannya adalah tingginya biaya yang terjadi dalam pengurusan berbagai perijinan yang terkait.

"Memang urusan perumahan itu merupakan urusan paling dasar," kata Rektor ITS ketika mengawali sambutannya. Lebih lanjut, Nuh mengutarakan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini. Sebagian besar diantara kita memiliki tekad besar, ingin segera menikah meski belum punya rumah sendiri. Sebab bagi mereka yang berpenghasilan rendah, harga rumah sekarang belum dapat dijangkau. Karenanya, Nuh berharap kepada PT Bank BTN supaya dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan yang menyangkut hal di atas.

Meskipun dibangun sederhana, rumah tersebut tidak boleh meninggalkan aspek-aspek seperti kelayakan, kenyamanan dan culture. Seluruh aspek tersebut harus berjalan seimbang sampai memenuhi sebuah bangunan rumah sederhana yang layak huni. "Dalam hal ini, ITS punya komitmen bersama BTN untuk mengeksplor kualitas produksinya dan ikut bantu membangun rumah," tegas Nuh.

Kebutuhan rumah di Indonesia cukup besar mengingat jumlah penduduknya sangat besar, yaitu lebih dari 200 juta jiwa. Prinsip dasar membangun perumahan pada hakekatnya bertolak dari sebuah pemikiran. Bahwa pembangunan perumahan didasarkan atas prakarsa dari swadaya masyarakat sendiri. Namun demikian pemenuhan kebutuhan perumahan di Indonesia tidak terlepas dari peranan Pengembang (Developer) khususnya perbankan.

Untuk kondisi saat ini, pembiayaan perumahan sangat membutuhkan peranan perbankan yang meliputi pembiayaan pembangunan perumahan dan penyediaan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi masyarakat. Penyediaan fasilitas KPR ini tidak terlepas dari peranan Bank BTN sebagai bank yang menangani pembiayaan perumahan. Dan tugas tersebut membutuhkan pendanaan yang sifatnya jangka panjang dan jumlah yang besar.

Pembiayaan perumahan tidak dapat dipisahkan dengan adanya penyediaan fasilitas KPR bagi pembeli. Hal ini disebabkan sebagian kecil masyarakat yang mampu membeli secara tunai. KPR adalah kredit yang sifatnya jangka panjang, untuk itu bank harus mempunyai sumber dana jangka panjang.

Selain itu Pemerintah juga mengadakan Gerakan Nasional Pembangunan Satu Juta Rumah (GNPSR). Gerakan ini terdiri dari pembangunan perumahan secara umum atau komersial sebanyak 52,5 ribu unit (KPR umum), pembangunan perumahan subsidi 203 ribu unit (RSH 200 ribu dan rusunawa sehat 3 ribu), pembangunan perumahan melalui swadaya 600 ribu unit (rumah baru 370 ribu dan pemberdayaan masyarakat 230 ribu) serta penataan kawasan kumuh (perbaikan rumah) sebanyak 200 unit.

Peranan Bank BTN dalam GNPSR terutama terkait dengan penyediaan KPR baik bersubsidi maupun non subsidi dalam rangka pembelian dan pembangunan Rumah sederhana sehat (RSH). Bank BTN menargetkan pemberian KPR RSH untuk tahun 2004 ini sebesar 1,32 trilyun rupiah untuk enam puluh ribu unit. Sampai akhir Nopember 2004, KPR RSH yang telah terealisasi mencapai 60.074 unit dengan nilai kredit sebesar 1,513 milyar.

Di luar itu, target pemberian kredit Bank BTN untuk tahun 2004 sebesar 3,33 trilyun rupiah dan tahun 2005 kelak mencapai 4,08 trilyun. "Untuk kredit perumahan, kita berikan porsi terbesar yaitu 92 persen dari total rencana kredit," ujar Kodradi, Dirut PT Bank BTN (Persero) di sela konferensi pers kemarin.(ard/sep)

Berita Terkait