ITS News

Sabtu, 28 Januari 2023
15 Maret 2005, 12:03

Bila Musik "Gedongan" Berkumandang di ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Mahasiswa Teknik Lingkungan malam itu boleh berbangga hati karena area parkir gedung tempat mereka belajar menjadi saksi bisu hancurnya argumen klasik mengenai musik jazz. Anggapan masyarakat selama yang memandang eksklusif musik yang terlahir pada zaman perbudakan orang kulit hitam di Amerika, pada malam itu berusaha dihancurkan.

Selama ini kita menganggap musik jazz merupakan musik orang-orang golongan elit atau disebut sebagai musik "gedongan". Tak jarang, kita mengeluh bahwa jazz hanya bisa dimengerti oleh orang tua yang tingkat intelektualnya lebih dari kita yang masih berstatus mahasiswa.

Malam itu anggapan-anggapan "wah" tentang jazz hampir tidak terlihat pada even yang bertajuk Jazz in Love. Even gratisan yang digelar suatu komunitas jazz Surabaya C. Two Six telah menyedot antusias penonton untuk mengikuti acara tersebut. Penonton Jazz in Love kebanyakan adalah penghuni ITS. Terlihat juga beberapa masyarakat yang tertarik dengan acara itu sempat kecele. Mereka mengira untuk melihat acara itu perlu mengeluarkan uang untuk tiket masuk, sehingga mereka memarkir kendaraan dijalan dan melihat dari trotoar Jl Taman Alumni. Untungnya panitia dari Teknik Lingkungan bertindak sigap dan segera menganjurkan mereka parkir didalam.

Suasana di dalam venue cukup ramai. Umbul-umbul dari salah satu produsen rokok terlihat cukup mencolok di sekitar area. Beberapa stand produk rokok yang punya moto "Bukan Basa-basi" juga terlihat dikunjungi penonton, stand-stand tersebut menyajikan berbagai macam layanan. Mulai dari pernak-pernik dari jazz club dan sponsor hingga stand pendaftaran anggota komunitas pecinta jazz C.Two Six. Dari para civitas akademika TL pun tak mau ketinggalan, mereka membuka stand ice cream.

Walaupun gerimis turun, penonton terlihat tetap antusias menikmati suguhan musik jazz. Meski sebagian penonton terpaksa berdiri karena memang jatah kursi penonton terbatas, namun mereka tetap setia melihat tampilan beberapa grup band jazz. Band yang tampil mengisi acara tersebut antara lain: Paddle Jazz Band, Lines Six Band, Nefer Titi Band dan Kwartet Nadirat Band.

Tulus, salah satu penonton, mengatakan ia datang dengan teman-temannya yang suka musik jazz. " Saya memang senang musik jazz dari dulu. Jadi senang sekali kalau ada even seperti ini," ujar mahasiswa Despro ini disela-sela pertunjukan. Memang tidak semua penonton sepenuhnya terpaku pada musik yang dimainkan, di malam itu terlihat perbedaan antara orang yang suka jazz dengan yang tidak. Sebagian penonton yang kurang suka dengan musiknya akan cenderung menjadikan acara itu sebagai acara kumpul dan ngobrol dengan temanya.
Meskipun sebagian penonton tidak tertarik dengan musik yang disajikan pihak C. Two Six tidak merasa kecewa. Hal tersebut dikarenakan tujuan awal mereka yaitu untuk memasyarakatkan musik jazz. Untuk mewujudkannya mereka telah menggelar even-even serupa yaitu acara musik jazz di lingkungan terbuka. Pemilihan tempat terbuka menurut mereka mendukung untuk mengikis pendapat bahwa jazz hanya untuk orang menengah ke atas. Dan paling tidak hal itu sudah terbukti kemarin malam di kampus ITS.(m6/har)

Berita Terkait