ITS News

Jumat, 07 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

BEM ITS Cerminan Kondisi Bangsa Indonesia

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Ketika Pemilu 1999 berlangsung, banyak hal dijanjikan oleh partai peserta pemilu. PRD misalnya menjanjikan kenaikan UMR buruh nasional sebesar 200%. Tak ketinggalan PDIP sebagai partai berbasis rakyat kecil saat itu juga menjajikan pemberantasan KKN, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan hal manis lainnya. Partai Golkar pun tak jauh dari hal seperti itu. Partai orde baru ini menjual paradigma barunya untuk membawa Indonesia ke arah lebih baik. Rakyat Indonesia betul-betul mendapatkan angin surga saat itu.

Lima tahun berlalu, bangsa Indonesia kembali harus menelan pil pahit. Hampir tidak ada partai yang benar-benar menjalankan amanat reformasi seperti yang diinginkan sebelumnya. Angin surga pun berubah menjadi bau busuk. Jangankan mendapatkan kesejahteraan mendapatkan keadilan dan rasa aman bisa jadi sangat langka di negeri itu. Angka pengangguran melesat menjadi 10%. Tapi itulah realitasnya, bangsa ini kemungkinan besar masih akan memilih partai yang sama walau berulang kali dikhianati.

Skup kecil pemandangan itu bisa kita lihat sendiri di kampus ITS. Tiga kandidat mengadu nasib untuk menjadi mahasiswa nomor satu di ITS. Berbagai visi, misi, dan program unggulan dikeluarkan. Arrozi misalnya mengusung ide untuk merevitalisasi kembali ormawa ITS, Surachman memaparkan obsesinya untuk melakukan pemberdayaan BEM ITS lebih maju, bahkan dari materi kampanyenya calon dari HMI menunjukkan slogan sarat politik. Tak beda dengan yang lain, Rendra memimpikan keinginannya untuk menjayakan ormawa ITS.

Namanya kampanye memang dirancang untuk membuat orang bermimpi. Tapi bukankah mimpi yang dibangun tanpa berdasarkan kenyataan lapangan itu namanya khayalan. Mereka bertiga sepertinya perlu berkaca terlebih dahulu pada realitas. Membangun visi, misi, dan program berdasarkan realitas itu jauh lebih baik.

Tingkat partisipasi mahasiswa ITS sendiri dalam Pemilu Raya hanyalah 40%. Sebuah kondisi yang mengenaskan. Belum lagi track rekord BEM ITS yang teramat jelek. BEM ITS bagi sebagian mahasiswa tidak dirasakan keberadaannya. Mungkin BEM ITS hanya muncul pada saat demonstrasi, pengkaderan, pelatihan massal terbatas. Itu pun orang yang beredar di sana itu-itu juga.

Ini belum termasuk kondisi kesekretariatan yang lebih menyerupai kandang ketimbang kantor. Coba tengok, sekarang bagaimana kondisinya. Ruangannya sangat berantakan, gelap, selalu tertutup. Sungguh memalukan jika tiba-tiba mahasiswa PT lain datang berkunjung di tempat itu.

Sungguh masyarakat ITS saat ini membutuhkan perubahan radikal internal ormawa itu sendiri. Tak perlu BEM mengurusi orang lain jika tidak mampu mengelola diri mereka sendiri dengan baik. Kata orang bijak, keteladanan adalah metode kepemimpinan paling efektif. Tak perlu memobilisasi massa dalam kegiatan, cobalah BEM ITS membuat kegiatan yang mengundang simpati dan decak kagum masyarakat ITS. Bukankah Muhammad SAW berhasil menarik massa memeluk Islam dikarenakan cerminan kepribadian yang mulia.

Sulit membayangkan bagaimana mungkin ketiga calon Presiden BEM ITS saat ini mampu mewujudkan visi, misi, dan programnya. Waktu kerja mereka cuman satu tahun, mustahil mereka mencapai apa yang mereka janjikan. Seharusnya mereka tidak memasang target yang melompat tinggi tapi target yang membuat orang melompat kecil seperti men-"jinjit" dalam meraih sesuatu.

BEM di masa akan datang ialah BEM yang lebih baik, BEM yang lebih terbuka untuk umum. Tidak hanya mengaum saat Bakti Kampus akan berlangsung, juga tidak jumawa dalam mengatasnamakan mahasiswa ITS. Namun sebuah komunitas yang berkepribadian menarik, senyum melihat orang lain, disiplin dalam kegiatan, memiliki kesekretariatan yang bersih. Adakah diantara ketiganya memiliki pemandangan seperti itu?! (ryo)

Ariyo Wibowo J.
Pemerhati Ormawa ITS.

Berita Terkait