ITS News

Kamis, 01 Desember 2022
15 Maret 2005, 12:03

Bapak Marah, Ibu Penengah

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

ASAM di gunung, garam di laut. Suatu saat nanti pasti akan bertemu juga. Pepatah ini agaknya juga dialami pasangan suami-istri Muchayat-Nadia Hasbi. Meski Muchayat berasal dari Gresik dan istrinya berasal dari ujung pulau Sumatera, toh akhirnya bersatu juga. "Saya mahasiswa ITS, ibu mahasiswi Unair. Dulu saya jadi rebutan mahasiswi lho," kelakar Muchayat.

Mungkin salah satu yang menjadi daya tarik para mahasiswi ketika itu, selain Muchayat aktivis dan sempat menjabat ketua dewan mahasiswa (Dema) ITS, dia juga dikenal jago karate sejak usia muda. Apakah Ny Nadia kesengsem karena itu? "Bapak itu orangnya disiplin, jujur, mandiri dan bertanggung jawab," kata Nadia.

Belum sampai istrinya menyelesaikan studi, Muchayat meminta agar istrinya menyudahi kuliahnya untuk memutuskan nikah. "Biar saya saja yang mencari uang. Dan lagi saat itu, saya sudah merasa cukup umur," sahut Muchayat.

Kedisiplinan mantan ketua Kadinda Jatim ini juga dirasakan oleh ketiga anaknya –Munadi Herlambang, Deny Alamsyah dan Nurul Fajriyah. "Sejak kecil kami diajari sikap disiplin dan mandiri," kata Munadi, mahasiswa FTI Jurusan Teknik Kimia semester IX ini.

Di mata anak-anaknya, Muchayat dan istrinya adalah tokoh yang paling dikagumi dan diteladani. Meski demikian, dalam mendidik anak-anaknya bukan berarti bapak dan ibunya tidak pernah marah. "Bapak yang sering marah. Kalau ibu itu biasanya menjadi penengah," tambah Munadi.

Pada saat kapan bapaknya marah? "Ya kalau anak-anaknya melanggar kedisiplinan. Misalnya, pulang malam tanpa alasan jelas, dan bangun tidur kesiangan. Meski demikian, marahnya tidak akan lama, asal perbuatan itu tidak bakalan diulangi," ceritanya. (hud)

Berita Terkait