ITS News

Rabu, 29 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Bangun halte tiap 100 M

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Hanya saja Putu Rudy berharap kebijakan itu harus diberlakukan konsisten. "Dulu kan sudah pernah diterapkan khusus di Jl Raya Darmo tapi sekarang kok bubar," ujar jebolan Universitas Delft, Belanda tahun 1998-2000 ini, Minggu (23/3).

Dijelaskan, pemkot harus menentukan tempat tertentu supaya pengendara sepeda motor bisa berbalik arah.

Putu Rudy juga menggagas pembangunan halte di tengah jalan setiap 100 meter. Misalnya, untuk memudahkan angkutan umum berhenti.

Pada setiap halte, lanjutnya, juga harus disediakan zebra cross agar penumpang dapat menyeberang ke pinggir lajur.

Namun Putu Rudy menyadari penerapan gagasan itu membutuhkan dana dan waktu lama. Ia membandingkan sistem transportasi di Surabaya dengan Belanda.

Di Belanda, jumlah kendaraan bermotor roda dua sebanding dengan sepeda pancal. Ini memudahkan pengaturan transportasi seperti yang akan diterapkan Pemkot Surabaya.

Meski begitu, Putu Rudy punya usulan praktis untuk Surabaya yang kendaraan bermotor roda duanya lebih berjubel ketimbang sepeda pancal.

"Sebaiknya dibangun entry point pada jarak tertentu untuk memudahkan kendaraan roda dua maupun roda empat masuk ke kavling atau persil," sarannya.

Tapi, Putu Rudy lagi-lagi menyadari, volume antrean pada entry point tentu akan lebih besar karena padatnya lalu lintas di Surabaya.

"Masalah transportasi memang memerlukan pemikirian menyeluruh dari semua elemen masyarakat," pungkasnya. (yul)

Berita Terkait