ITS News

Sabtu, 11 Juli 2020
15 Maret 2005, 12:03

Bakti Kampus: Penuh Warna, Dari Mati Lampu sampai Lelucon

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kekhawatiran banyak pihak terhadap pelaksanaan Bakti Kampus (BK) tahun ini tidak terbukti. Bakti Kampus Integralistik yang berakhir Minggu (13/05) kemarin berlangsung dalam suasana penuh keceriaan. Guyonan dan celoteh para peserta mewarnai hingga penutupan acara tersebut.

Semenjak keluarnya SK Rektor ITS mengenai pelarangan segala bentuk pengakaderan, banyak pihak yang meragukan kemampuan BEM ITS untuk menggelar kegiatan akbar ini. BK sebagai pengkaderan awal dinilai pihak rektorat tidak diperlukan lagi keberadaannya. Bahkan pengkaderan jurusan pun sempat terancam, walaupun pada akhirnya pengkaderan jurusan banyak yang berhasil dilaksanakan.

Dihadiri oleh 400-an peserta, kegiatan dua hari ini bisa dibilang sukses. Walaupun begitu kendala di sana sini sempat membuat panitia kebingungan. Padamnya listrik semenjak jum’at sore hingga minggu sore menyebabkan hari pertama terpaksa diliputi gelap gulitanya malam. "Dari awal kami cuman menargetkan 500 peserta, namun karena kendala teknis seperti mati lampu, jelas ada penurunan jumlah," jelas Nugg, panggilan akrab Nugroho, Presiden BEM ITS.

Penggunaan metode yang jauh berbeda dari pelaksanaan Bakti Kampus sebelumnya, menjadikan Bakti Kampus kali ini jauh dari kesan perploncoan. Metode penyampaian materi secara interaktif serta komunikatif dengan peserta BK menjadi sasaran utama pelaksanaan BK. "Sudah nggak zamannya lagi Mas," ujar Zulkarnaen, Koordinator Pengawas saat ditanya tentang keberadaan ‘pressing’.

Perubahan metode ini tentu saja ditanggapi positif oleh peserta BK sendiri. Mereka tidak lagi khawatir atau pun ragu untuk mengeluarkan pendapat. Walaupun terkadang pendapat itu menentang instruktur mereka. "Senang mas, nggak ada pressing, dapat kenalan lagi," ujar Rico yang menjadi peseta gugus I. Keakraban antar elemen baik itu peserta maupun panitia memang nyata. Tak ada lagi bentakan maupun kata-kata ‘kotor’ menyelingi ucapan panitia apalagi instruktur kepada peserta.

Pelaksanaan BK ini baru dapat terselenggara setelah pengkaderan jurusan. Di mana biasanya setelah melewati pengkaderan jurusan para pesertanya ‘terdoktrin’ pada fanatisme jurusan. Hal ini menjadikan kepekaan terhadap kesatuan ITS menjadi berkurang. "Kami tahu BK kali ini mungkin terlambat, tapi kami perlu menunjukkan eksistensi dan independensi mahasiswa," papar Rakhmad koordinator SC. (m4/li)

Berita Terkait