ITS News

Minggu, 25 September 2022
15 Maret 2005, 12:03

Atasi Banjir, Butuh Rp 250 M

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

SURABAYA – Tim pengendalian banjir Pemkot Surabaya terus berpacu mengatasi problemnya. Setelah berhasil mendeteksi keberadaan gorong-gorong di sepanjang Jalan Kenari –Embong Malang yang puluhan tahun tak terurus, kemarin, tim tersebut terbang ke Jakarta untuk mengajukan permohonan bantuan.

Di antara anggota tim yang berangkat itu, Kadis Pengendalian dan Penanggulangan Banjir (DPP Banjir), Ir Tri Siswanto MM; konsultan khusus DPP Banjir Dr Ir Pieter Bentura CES, DEA, dan beberapa orang staf lainnya. Hari itu mereka menghadap ke Departeman Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Dep. Kimpraswil).

"Setelah satu per satu akar dari penyebab banjir itu kami temukan, ternyata membutuhkan biaya yang cukup besar untuk mengatasinya," kata Tri Siswanto kepada Jawa Pos, kemarin. Dijelaskan, kalau hanya mengandalkan APBD 2002, DPP Banjir hanya mendapat jatah Rp 28 miliar. "Padahal, setelah kami hitung dengan cermat, kami membutuhkan dana sedikitnya Rp 250 miliar," ujarnya, serius.

Untuk apa saja dana sebesar Rp 250 miliar itu? Tri menyebut di antaranya untuk memperbaiki sistem saluran Greges di kawasan Patuha, Simo Pomahan, yang selama ini dikenal sebagai daerah langganan banjir. "Proyek ini sedikitnya butuh Rp 30 miliar," katanya.

Dana yang tak kalah besarnya, kata Tri juga dipergunakan untuk memperbaiki gorong-gorong di kawasan Embong Malang. Seperti diberitakan, gorong-gorong tersebut merupakan peninggalan Belanda yang sudah puluhan tahun tak terurus. Saluran drainase itu berdiameter 2,75 meter, dan diduga melintas dari Jalan Kenari–Embong Malang–Blauran–Bubutan–Tugu Pahlawan.

Menurut Pieter Bentura yang juga ikut mendampingi ke Jakarta, pihaknya sudah menelusuri dan mempelajari seluk beluk saluran gorong-gorong tersebut. "Saluran itu ternyata dibuat Belanda sejak 1928. Seharusnya, setiap 30 tahun sekali dilakukan reevaluasi. Tapi, sejak dibangun hingga sekarang, hal itu belum pernah dilakukan," kata Pieter, di acara Surabaya First Channel Radio SCFM, kemarin.

Karena itu, untuk memperbaikinya, membutuhkan biaya miliaran rupiah dan waktu paling cepat empat bulan. "Sekarang ini, kami berusaha melacak blue print (rencana asli) pembangunan gorong-gorong itu. Katanya, masih ada dan kini disimpan di museum Belanda," ujarnya.

Dia memperkirakan, kalau sistem gorong-gorong peninggalan Belanda itu bisa difungsikan kembali, setidaknya kawasan seluas 60 hektar di sekitarnya akan terbebas banjir.(agt)

Berita Terkait