ITS News

Kamis, 29 September 2022
15 Maret 2005, 12:03

AKAR PERMASALAHAN SAMPAH ADALAH ALAT ANGKUT DAN LAHAN

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Menumpuknya sampah di Surabaya mengundang keprihatunan berbagai pihak. Salah satunya Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITS yang mengadakan dialog interaktif tentang sampah Surabaya serta penanggulangannya. Dialog yang diadakan di halaman gedung H, ITS ini, menghadirkan tiga anggota Tim Perencana LPA Benowo dan Revitalisasi LPA KEputih serta dua dosen Teknik Lingkungan. Ketiga tim pimpinan Prof Dr.Ir. Wahyono Hadi, MSc itu adalah Suwarno (doses Teksin Sipil), Didik Cahyanto (Pengawas dari pihak Environmental Engineering) dan Imam Santoso (asisten tenaga ahli).

Sementara dari pihak Jurusan Teknik Lingkungan hadir Ibu Ellina S.Pandebesie, ST, MT dan Sekjur Ir. Agus Slamet, MSc. Melalui dialog ini diharapkan adanya suatu kesimpulan serta usulan yang dapat berguna dalam usaha penyelesaian masalah sampah ini. Ibu Ellina yang membuka acara ini menjelaskan akar permasalahan menumpuknya sampah di Surabaya. Menurut beliau, ada 2 penyebab utama. Pertama, tidak seimbangnya jumlah timbunan sampah yang ada dengan jumlah alat pengangkut serta SDM-nya. Yang kedua adalah sulitnya mencari lahan untuk penimbunan akhir sampah. Lahan yang ada sebagian besar telah digunakan untuk pemukiman, seiring dengan meningkatnya urbanisasi. Bahkan daerah di sekitar LPA Benowo sebagai LPA pengganti Keputih mulai dipadati penduduk. Hal ini didukung dengan adanya jalan yang menghubungkan Gresik-Surabaya dan tumbuhnya industri di daerah tersebut.

Sementara, Suwarno dan Didik menjelaskan, sebenarnya LPA Benowo yang dibangun secara bertahap ini dari tahun ke tahun ini, telah siap menampung sampah Surabaya. Hanya saja pembangunan fisik jalan yang menuju LPA Benowo ini masih belum sempurna, sehingga akan sulit bagi truk pengangkut sampah untuk mencapainya. Saat ini, pembangunan LPA Benowo sudah berada dalam tahap penyelesaian.Dibangun di lahan seluas 26 hektar, LPA Benowo digunakan untuk penimbunan sampah (13 hektar), pengolahan air bersih, terminal dumping dan saluran-saluran lindi. LPA ini direncanakan dapat menerima sampah sebanyak 3000 M3/hari. Tidak seperti LPA Keputih yang menerapkan sistem Open Dumping (dibuang dilahan terbuka), LPA Benowo akan menerapkan sistem Sanitary Landfill dimana sampah yang diterima, baik sampah organik maupun anorganik, akan dimampatkan dan ditimbun di tanah. Setelah 90 hari dilakukan pemisahan antara sampah yang terdegradasi dan tidak terdegradasi. Sampah yang tidak terdegradasi dapat digunakan sebagai campuran dalam pembuatan paving dan briket. Dengan sistem ini, bau busuk tidak akan menyebar. Namum demikian sistem ini memiliki kelemahan yaitu sulitnya mencari tanah untuk menimbun sampah. Karenanya akan digunakan tanah dari LPA Keputih yang telah membusuk.

Bagaimanapun juga, LPA Benowo yang direncanakan selesai pembangunannya pada April 2002, belum menjadi solusi yang tepat bagi penanganan sampah di Surabaya. Mengingat jumlah total sampah Surabaya yang 8000 m3/hari, masih ada 5000 m3/hari yang ahrus dipikirkan penanganannya, kalau dipaksakan, kapasitas LPA tersebut bisa ditambah. Tetapi keputusan ini akan mengurangi umur lahan. Dengan kata lain diperlukan adanya reduksi volume sampah yang akan dibuang ke LPA. Dimulai dari reduksi samapah domestik rumah tangga selanjutnya reduksi sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Di TPS-TPS dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik (sebanyak 80 % dari sampah total) dapat diproses menjadi kompos dan didaur ulang, sedangkan sampah anorganik dapat disalurkan ke industri plastik , kaleng,paving dan briket. Lalu bagaimanakah dengan LPA Keputih ? Imam dan Suwarno menjelaskan, telah ada konsep untuk revitalisasinya. Hanya saja untuk realisasinya semua diserahkan kepada Dinas KEbersihan Pemkot Surabaya.

Salah seorang peserta diskusi ini juga mengigatkan, terlepas dari masalah teknis, diperlukan adanya kerjasama dari berbagai pihak yang terkait seperti Pemkot, DPRD, dan Dinas Kebersihan Pemkot Surabaya. Serta diperlukan kesadaran masayarakat Surabaya sehingga penangan sampah ini dapat berjalan maksimal. Misalnya masyarakat Surabaya tidak membuang sampah di sembarang lokasi dan mau mereduksi volume sampahnya. Kemudian dibuat pula suatu peraturan yang menindak tegas oknum-oknum yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Dengan demikian diharapkan Surabaya dapat benar-benar bebas sampah. Telah banyak pihak saling bertukar pikiran dan berdiskusi tentang penanganan sampah Surabaya ini. Telah banyak pula ide dan gagasan yang dilontarkan. Namun, itu semua tidak akan banyak membantu jika pihak yang berwenang tidak merealisasikannya.(kk/rie)

Berita Terkait