ITS News

Rabu, 07 Desember 2022
15 Maret 2005, 12:03

Abdul Malik : "Teknologi tak hanya kapal dan pesawat&quot

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

"Teknologi tak selalu kapal atau pesawat, itulah ungkapan yang dikemukan oleh Sekmen Ristek, Dr.Jr.Abdul Malik, pada seminar dengan tema "Konsep pengembangan Riset dan Teknologi Dalam Menghadapi Persaingan Teknologi Di Era Pasar Bebas".

"Pandangan teknologi demikian adalah sempit," tegasnya. Teknologi merupakan bagian integral budaya dan perekonomian nasional sehingga harus tanggap menghadapi perubahan global. Karena itu Iptek dituntut untuk tanggap dan kontributif dalam upaya menangani krisis dan munculnya tatanan baru kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. "Tantangan inilah perlu adanya kajian ulang mengenai kebijakan yang telah diambil dalam bidang Iptek untuk pemecahan masalah yang dihadapi bangsa," katanya kemarin (15/11)

Menurutnya, meski teknologi terbaru telah diciptakan. Namun, perilaku atau budaya masyarakat masih sama. Padahal dengan teknologi terbaru tersebut seyogyanya budaya masyarakat dapat mengikutinya. Maka fungsi teknolgi tersebut tidak ada artinya sebagai daya saing dalam pasar bebas. Untuk itulah, memanfaatkan dan menguasai teknologi secara dinamis secara kultur merupakan salah satu visi. Jadi perlu ditanamkan di seluruh lapisan masyarakat

Contohnya, banyak pengemudi kendaraan yang masih mempunyai budaya "nyelong" kiri dan kanan kayak budaya kendaraan roda dua. Atau tidak memanaskan genset setiap harinya– kebetulan waktu itu lampu mati dan gensetnya lama untuk dihidupkan karena tidak pernah dipanasi. "Contoh budaya yang keliru terhadap teknologi terjadi seperti saat ini," jelasnya setelah listrik graha padam agak lama.

Di samping itu, Iptek diperlukan dapat untuk menumbuhkan daya saing dalam memproduksi barang dan jasa. Daya saing ini harus diartikan sebagai kemampuan bangsa kita, dalam berbagai tantangan dan persaingan global, meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyat secara nyata dan berkelanjutan dengan tingkat pertumbuhan dan distribusi, yang secara politisi dapat diterima oleh seluruh masyrakat dipusat maupun daerah. "Ini merupakan inti dari keseluruhan visi dan misi Iptek Nasional," jelas pria yang menggunakan jas berwarna coklat.

Untuk itulah diperlukan kerjasama berbagai pihak agar tujuan tersebut dapat tercapai. Salah satunya, adanya hubungan antara dunia pendidikan dan industri. Selama ini yang berkembang, kalangan akademisi lebih bangga terhadap ilmunya. Sedangkan kalangan pengusaha lebih memilih lisensi dari luar. "Sungguh ironis apa yang terjadi antara kalangan pengusaha dan akademisi selama ini," ungkapnya dengan wajah serius.

Pada kesempatan ini, pembicara yang hadir disamping Mensek Ristek adalah Dr.Ir.Suharto,DEA (LPM ITS), Prof.Dr. Ontoseno Penangsang (Ketua Lemlit), dan Ir. Daniel M.Rosyid, Phd.(Pembantu Rektor IV ITS).(rom/li)

Berita Terkait