ITS News

Senin, 27 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

38 Tahun Pengabdian Anggrahini untuk ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

"Pertama kali masuk ITS tahun 1958. Saat itu, masih bernama YPTT karena nama ITS baru diberikan pada tahun 1960," kata Ir Anggrahini MSc mengawali kisahnya. Setelah dua tahun mengenyam pendidikan tinggi di YPTT (Yayasan Pendidikan Tinggi Teknik), Anggrahini berjuang agar YPTT mendapat pengakuan dari pemerintah sebagai lembaga pendidikan negeri. Bersama ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Dewan Mahasiswa, Anggrahini berhasil memenangkan perjuangan itu dan YPTT berubah menjadi perguruan tinggi teknik negeri yang pertama di Surabaya.

Sebagai anak pertama dari sepuluh bersaudara, Anggrahini mengemban tanggung jawab moral kepada kedua orang tua dan adik-adiknya. "Orang tua saya ingin melihat saya berhasil dengan harapan hal itu bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adik saya nantinya," tutur wanita kelahiran Mojosari, 23 Mei 1939. Bahkan, tujuan pertamanya memilih pendidikan teknik tidak lain adalah untuk melanjutkan cita-cita sang ayah. Hal itupun terwujud dengan diterimanya Anggrahini di jurusan Teknik Sipil.

Terbentur masalah ekonomi menjadi alasan bagi Anggrahini memilih ITS. "Ayah saya dulu ingin jadi insinyur, tapi gagal karena faktor biaya. Akhirnya beliau malah masuk sekolah militer, dan beliau menyarankan saya masuk sekolah teknik," ungkap pecinta seni ini. Prinsip kerja keras yang selalu dipegangnya membawa Anggrahini meraih gelar insinyur Teknik Sipil pada tahun 1966.

"Saat saya lulus S1, ITS masih sangat kekurangan dosen. Di jurusan Teknik Sipil saja hanya ada tiga dosen tetap, lainnya dosen luar biasa. Lalu oleh Prof Ir Sumardio, waktu menjabat sebagai rektor ke-3 ITS, saya ditawari menjadi dosen dengan alasan kalau ditangan alumni ITS bakal maju," terang Anggrahini melanjutkan ceritanya. Merasa bertanggung jawab sebagai alumni ITS, tawaran dari rektor tersebut diterimanya. Sejak itulah, nama Ir Anggrahini melengkapi deretan nama-nama dosen di ITS.

Kebiasaan aktif dan bekerja keras pun tetap dipegangnya, hingga Anggrahini berhasil menangani berbagai proyek pembangunan di ITS. Tidak jarang pula, dia berhasil mengemban tugas sebagai pimpinan sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung. "Selama di ITS ini, saya pernah menjadi kepala biro bangunan dan manager proyek. Saat itu, ITS belum sehebat dan sebagus sekarang, kira-kira tahun 1970-an," terang wanita yang akhirnya memilih untuk tidak berkeluarga dan tinggal bersama dua keponakannya.

Keputusannya itu, menurutnya justru membuat Anggrahini bisa sepenuhnya mengabdi kepada ITS. "Saya merasa bisa full time untuk ITS, dan bisa dikatakan hampir tidak pernah absen," ujar mantan Pembantu Rektor I ITS. Beberapa negara yang berhasil dia rangkul untuk kerjasama dengan ITS diantaranya Belgia, Belanda dan Jepang. Bahkan, kerjasama dengan Belgia hingga akhirnya bisa melahirkan jurusan Teknik Lingkungan FTSP.

Berdasarkan pengalamannya menjadi dosen dalam kurun waktu yang lama, Anggrahini ingin berpesan kepada dosen-dosen di lingkungan ITS agar memegang komitmennya sebagai seorang pendidik. "Kalau dosennya saja sudah tidak benar, bagaimana mahasiswa bisa bertindak lebih baik. Selain itu, saya sangat menghimbau kepada para dosen agar menjaga keterikatan emosi, baik itu sesama dosen maupun dengan mahasiswa dan karyawannya," tutur Anggrahini.

Lebih dari itu, wanita yang sangat menggemari olahraga ini juga berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tidak mudah menyerah. "Belajar dan bekerja keras itulah modal yang paling penting saat ini. Jangan sampai tergoda dengan segala hal yang sifatnya instan," ujarnya bersemangat. Menurutnya, komitmen dan konsistensi juga akan membawa pengaruh yang sangat besar dalam perjalanan hidup setiap orang.(sep/bch)

Berita Terkait