News

Jika Tuhan Maha Adil, Mengapa Tidak Semua Manusia di Dunia Mendapat Petunjuk-Nya?

Rab, 08 Mei 2024
2:34 pm
Uncategorized

Sorry, no posts matched your criteria.

Share :
Oleh : adminmasjid   |

Jika Tuhan Maha Adil, Mengapa Tidak Semua Manusia di Dunia Mendapat Petunjuk-Nya?

Kastrat JMMI – Jum’at, 03 Mei 2024  | 20:00 WIB

Salah satu pertanyaan yang cukup mengganjal di pikiran masyarakat modern adalah jika Tuhan Maha Adil, mengapa tidak semua umat manusia mendapatkan Rahmat berupa petunjuk dan menjadi golongan orang yang beriman? Sehingga demikian seluruhnya akan menuai janji atas kebaikannya selama di dunia. Bagaimana bisa seseorang yang menemukan obat kanker misalnya, ia menyelamatkan jutaan jiwa, lalu dimasukkan ke neraka hanya karena tidak menganut agama islam? Jika Dia Maha Pengasih, seharusnya Dia tidak menghendaki itu. Tapi Dia tidak mampu menghilangkannya. Atau mungkin juga Dia mampu menghilangkannya karena Dia Maha Kuasa, tapi Dia tidak menghendaki. Berarti, Dia tidak Maha Pengasih.

Hal ini tentunya dapat diterangkan melalui kesadaran diri kita, karena selaku manusia kita memiliki batasan dalam mengetahui betul isi hati manusia lain, manusia hanya melihat tampak luar identitas yang dibawakan, sedang bisa saja dalam isi hati manusia tersebut tersembunyi setitik keimanan di dalamnya. Setiap orang, baik yang terlahir sebagai Muslim maupun non-Muslim, pada dasarnya mempunyai kewajiban yang sama untuk belajar dan menemukan jalan kebenaran. Seseorang yang kita kenal mungkin seorang Muslim, tetapi hatinya tidak beriman. Mungkin juga seseorang yang kita kenal bukan seorang Muslim, namun dia beriman secara mendalam. Jika seseorang meninggal dalam keadaan hati yang ingkar kepada Allah, pasti dia akan dimasukkan ke neraka. Namun, jika orang kedua meninggal dengan hati yang beriman, besar kemungkinannya dia akan masuk  surga. Hal yang sama terjadi pada paman Nabi, Abu Thalib. Menurut Syekh Yusri, Abu Thalib itu termasuk orang yang hatinya sudah beriman, tapi dia belum mengucapkan dua kalimat syahadat sehingga tidak disebut sebagai orang Islam (Muhammad Nuruddin, 2020 : 280 – 282).

Lantas bagaimana dengan pembalasan di akhirat itu sendiri? Hal tersebut dapat dipahami sebagai sebuah hak prerogatif yang dimiliki Allah dalam mengadili nantinya. Sesuai dengan sifat Qudrat yang dimiliki-Nya. Sebab keadilan yang kita yakini tentunya bersifat subjektif saja, dan terbatas sebagai makhlukNya. Kita sering mengukur zalim tidaknya Tuhan itu dengan standar yang kita buat itu sendiri. Seseorang itu dikatakan tidak adil kalau dia mengelola milik orang lain dengan cara-cara yang tidak wajar. Sedangkan kita percaya bahwa alam semesta beserta isinya ini berada dalam kepemilikan Tuhan. Karena alam semesta ini berada dalam kepemilikan Tuhan, maka Dia bisa berbuat apa saja atas yang Dia miliki. Andai kata Tuhan ingin memasukkan orang yang taat ke dalam neraka — dan itu tidak mungkin — maka Tuhan tidak bisa disebut zalim. Mengapa? Karena semuanya berada kepemilikan-Nya. Begitu juga kalau Tuhan ingin memasukkan seorang kafir ke dalam surga-Nya — meskipun itu tidak mungkin — Tuhan juga tidak bisa disebut zalim. Mengapa? Ya karena semuanya milik Tuhan. Tuhan, sebagai penguasa mutlak, sudah pasti tidak ada yang mengatur. Kalau ada yang mengatur, namanya bukan Tuhan lagi. Sementara kita sebagai makhluk-Nya bukan pemilik sesungguhnya atas apa yang kita miliki, maka kita diberi aturan oleh Sang Pemilik sesungguhnya, yaitu Tuhan (Muhammad Nuruddin, 2020 : 295-296).

Sehubungan dengan adanya hak prerogatif yang dimiliki Allah atau sifat wajib Qudrot. Dilengkapi pula dengan dua sifat wajib-Nya, yakni Ilmun dan Irodat. Ketiga sifat itulah yang kemudian memunculkan takdir. Seseorang tidak akan bisa keluar dari takdir yang telah digariskan Allah karena itu semua sudah dikehendaki oleh Allah dari awal dan tidak mungkin kehendak-Nya tidak terjadi, termasuk halnya dalam kematian makhluk.

Konon, hiduplah seorang yang bersahabat dengan nabi Sulaiman as. Hampir setiap hari dia berada di istana Sulaiman. Suatu ketika, datanglah malaikat maut ke istana Sulaiman dalam wujud manusia. Dalam pertemuan di istana, sahabat Sulaiman tersebut melihat manusia yang aneh dan baru kali ini dia dilihatnya berada di istana. Orang itu memandang kepadanya dengan pandangan yang menakutkan. Setelah pertemuan selesai, sahabat bertanya kepada Sulaiman tentang manusia yang baru datang ke istananya. Nabi Sulaiman mengatakan bahwa orang itu adalah malaikat maut yang datang bertamu kepadanya. Mengetahui bahwa yang baru dilihatnya adalah malaikat maut, dia berfikir jangan-jangan kedatangan malaikat maut itu adalah untuk mengambil nyawanya. Kemudian, dia meminta tolong kepada Sulaiman as. agar memerintahkan angin untuk membawanya ke suatu negeri yang jauh, negeri India-untuk menghindarkan diri dari malaikat maut tersebut. 

Atas desakan sahabatnya itu, Sulaiman as. akhirnya berkenan memerintahkan angin untuk membawa sahabatnya ke negeri jauh tersebut (India). Keesokan harinya, malaikat maut datang lagi ke istana Sulaiman dalam wujud yang sama. Sesampainya di istana, nabi Sulaiman bertanya kepada malaikat maut, tentang sebab dia memandang kepada sahabatnya kemarin. Malaikat maut menjawab, “Kemarin saya resah karena saya diperintahkan untuk mencabut nyawanya di India, namun dia masih berada di sini. Namun, pada jam dan saat yang telah ditentukan nyawanya dicabut, tiba-tiba saya telah menemukannya berada di India. Alhamdulillah, dia sudah meninggal dunia tepat pada waktu dan tempatnya”. Tutup malaikat maut (Syofyan Hadi, 2021 : 20-21).

Jika semua hal itu sudah pasti ditetapkan Allah, termasuk kematian, lalu bagaimanakah dengan perkataan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur ??  Menurut Buya Yahya, ada 3 pendapat ulama terkait hadits tersebut. 

  1. Dijadikan umurnya berkah dan produktif, sehingga bisa memberikan manfaat yang besar selama hidupnya.
  2. Allah mengubah umur hamba tersebut menjadi lebih panjang. Seakan-akan terjadi perpanjangan umur karena banyak silaturahmi, padahal secara aqidah sebenarnya Allah telah menetapkan semua kejadian tersebut.
  3. Dijadikan atsar (jejak peninggalannya) dikenang oleh orang banyak sehingga menjadi jariyah yang baik. Dari sini, muncul quote yang indah, “Kematian dialami bukan saat seseorang kehilangan nyawa, tapi di saat orang tidak memberi manfaat bagi sekitarnya”.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dijawab sebelumnya, dapat kita ambil kesimpulan bahwa semua itu dapat dijawab dengan sifat wajib Allah Qudrot dan Irodat. Sifat-sifat wajib Allah telah digariskan oleh para ulama terdahulu meskipun pada akhirnya, sebagai makhluk-Nya, tidak akan pernah dapat mendefinisikan Allah hanya dengan sifat-sifat tersebut karena sifat-sifat kemuliaan-Nya yang tidak terbatas. Dari hal tersebut, terbukti konsep aqidah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah digariskan para ulama telah menjadi konsep yang tangguh dalam menghadapi tantangan dari berbagai pemikiran yang muncul setelahnya. Sebagai makhluk Allah, perlu bagi kita untuk mengimplementasikan sifat-sifat Allah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan liar yang muncul di benak pikiran kita.

 

Referensi : 

Nuruddin, Muhammad. (2020). Seri Ilmu Kalam : Seputar Ketuhanan. Depok : Keira.

Hadi, Syofyan. (2021). Kisah dan ‘Ibrah. Serang : A-Empat.

 

Latest News

Sorry, no posts matched your criteria.