[vc_row][vc_column][vc_column_text]Al-Qur’an menyebutkan dalam Surat Ash-Shaffat ayat 6 bahwa Allah menjadikan “Al-Kawakib” sebagai hiasan di langit dunia. Para mufassir pada masa lampau memaknai kata “Al Kawakib” sebagai bintang. Padahal terdapat beberapa kata lain yang menunjukkan bintang, namun mengapa menggunakan kata tersebut sebagai bintang? Apakah keduanya memiliki makna dan objek yang sama? Bagaimana jika dibandingkan dengan pengetahuan kontemporer masa kini?
Simak penjelasan lengkapnya bersama Prof. Agus Purwanto, D.Sc., pada Ngaji Bakda Dhuhur : Ayat-Ayat Semesta melalui video berikut
https://youtube.com/live/t0r_2hwEKmg[/vc_column_text][dot_embed_youtube youtube=”https://www.youtube.com/embed/t0r_2hwEKmg?si=ZHdRKJ9Jan2Q2Wg_” cover=”1500″][/vc_column][/vc_row]
Allah SWT menggambarkan kondisi neraka dengan sangat amat detail untuk memberi gambaran siksaan yang sangat amat pedih. Setiap bagian
Diantara jalan-jalan untuk mengenal Allah adalah melalui syukur terhadap nikmat. Sebab nikmat merupakan karunia Allah yang selalu ada dalam
Para ulama’ klasik sangat berpegang teguh terhadap pendapatnya karena dilandasi dengan ilmu yang kuat, sehingga sering terjadi perselisihan diantaranya.