Kunjungan Benchmark ke ITB, Mahasiswa FTEIC ITS Gali Wawasan Tata Kelola Organisasi

Terbit pada

Minggu, 20 September 2026

Sebagai upaya memperkuat evaluasi organisasi secara objektif, mahasiswa FTEIC ITS melaksanakan kegiatan benchmark ke Institut Teknologi Bandung (ITB) guna menggali wawasan mendalam mengenai struktur organisasi dan manajerial program kerja.

Gambar : Kegiatan Benchmark dengan IMMG ITB

Surabaya, FTEIC ITS – Mahasiswa FTEIC ITS melaksanakan kegiatan benchmark ke ITB pada 2 September 2026, bertempat di Kampus ITB Ganesha. Lembaga mahasiswa yang menjadi tujuan kunjungan adalah Ikatan Mahasiswa Metalurgi (IMMG) ITB. Kegiatan ini diikuti oleh 110 peserta yang tersebar dari berbagai divisi, meliputi Badan Pengurus Harian (BPH) sebanyak 6 orang, Luar Negeri 18 orang, Riset dan Teknologi 15 orang, Dalam Negeri 12 orang, Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) 12 orang, Kewirausahaan (KWU) 13 orang, Badan Pengawas (BPS) 8 orang, Sosial Masyarakat (Sosmas) 17 orang, serta Badan Koordinator (Bakor) 9 orang.

Iqbal Aflah Al Farisi, mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2024 yang tergabung dalam Departemen Luar Negeri, menjelaskan bahwa dirinya ditunjuk sebagai penanggung jawab (PIC) kegiatan benchmark ini melalui pembagian tugas yang telah dilakukan oleh Kepala Biro Hubungan Luar Negeri. Selain itu, ia sendiri sejak awal telah aktif mencari himpunan mahasiswa di ITB yang dapat menjadi mitra kegiatan benchmark ini.

Kegiatan ini tidak melalui proses seleksi khusus bagi peserta, melainkan hanya melalui pengisian konfirmasi kehadiran (RSVP) untuk menentukan kesediaan mengikuti acara. Kegiatan benchmark ini bersifat gratis dan dikhususkan bagi seluruh fungsionaris mahasiswa FTEIC ITS dalam kabinet Pola Harmonis.

Latar belakang diadakannya kegiatan benchmark dengan IMMG ITB berangkat dari kebutuhan organisasi untuk melakukan evaluasi secara objektif melalui studi banding dengan lembaga mahasiswa lain. Pemilihan ITB sebagai tujuan benchmark, dibandingkan kampus atau organisasi lainnya, didasari oleh pertimbangan bahwa ITB merupakan institusi yang lebih tua dibandingkan ITS, sehingga tata kelola organisasinya dinilai telah berkembang lebih dahulu. Selain itu, kesamaan karakter sebagai sesama institut teknologi turut menjadi alasan mengapa ITB dipandang relevan sebagai mitra studi banding.

Proses persiapan dan koordinasi diawali dengan menghubungi pihak eksternal IMMG ITB, yang kemudian menyetujui permintaan kolaborasi benchmark dari mahasiswa FTEIC ITS. Koordinasi selanjutnya dilakukan melalui grup WhatsApp dan Zoom Meeting guna mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis kegiatan. Pada pelaksanaannya, sempat terjadi kendala kecil berupa keterlambatan salah satu bus rombongan, namun acara tetap dapat berjalan begitu seluruh peserta tiba di lokasi. Selain itu, terdapat pula kendala kecil terkait tempat makan selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Topik utama yang dibahas dalam sesi diskusi meliputi tata kelola organisasi di ITB serta struktur organigram organisasi yang diterapkan di lingkungan kampus tersebut. Insight yang paling berkesan bagi peserta terletak pada efisiensi tata kelola dan manajemen internal organisasi yang diterapkan oleh IMMG ITB.

Dari hasil diskusi, ditemukan sejumlah perbedaan mencolok antara sistem pengelolaan organisasi di ITB dengan yang selama ini diterapkan di FTEIC ITS, khususnya pada tata cara pengelolaan organisasi, susunan organigram, hingga pembagian jobdesk kepada staf. Perbedaan ini menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran berharga bagi mahasiswa FTEIC ITS ke depannya.

Secara keseluruhan, proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan benchmark ini berjalan tanpa hambatan yang berarti. Kendala-kendala kecil yang muncul selama kegiatan langsung didiskusikan bersama pihak PIC dari IMMG ITB, sehingga dapat segera diatasi dan tidak mengganggu jalannya acara secara keseluruhan.(Humas-Sh)

×