DTI ITS Bekali Mahasiswa Hadapi Era AI melalui Kuliah Tamu Mobile Builders’ Guide

Terbit pada

Jumat, 6 November 2026

Surabaya, IT Journalistic – Departemen Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyelenggarakan kuliah tamu bertema “MBG: Mobile Builders’ Guide” pada Kamis (5/11/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB ini digelar di Auditorium Tower 2 ITS dan diikuti oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pemrograman Mobile. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami peran AI dalam pengembangan aplikasi mobile sekaligus menyiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Kuliah tamu ini menghadirkan Abdullah Faqih Septiyanto, S.Kom., M.Kom., Researcher sekaligus Chief Technology Officer (CTO) CV. Swandhana, sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, Abdullah Faqih menjelaskan bahwa cara membangun aplikasi mobile terus berubah, mulai dari era native dengan Java/Kotlin dan Swift, era cross-platform dengan Flutter dan React Native, hingga era pengembangan dengan bantuan AI. Meski begitu, peran developer tetap dibutuhkan. Menurutnya, AI bukan pengganti, melainkan partner kerja. AI memang dapat membantu menulis kode, tetapi developerlah yang menentukan aplikasi apa yang dibangun, untuk siapa, dan memastikan hasilnya benar. “AI tidak menggantikan developer, tetapi developer yang memakai AI akan menggantikan yang tidak,” demikian pesan yang tertulis dalam materinya.

Abdullah Faqih Septiyanto, S.Kom., M.Kom., memaparkan perubahan cara membangun aplikasi mobile, dari era native hingga era AI-assisted, di hadapan mahasiswa. 

Abdullah Faqih juga mengingatkan bahwa hasil kerja AI hanya sebaik pemahaman penggunanya. Tanpa pemahaman, AI bisa menyarankan library yang tidak ada atau menaruh API key langsung di dalam kode. Di sisi lain, peluang kerja di bidang ini masih terbuka lebar. Ia menyebut Indonesia membutuhkan sekitar 9-12 juta talenta digital hingga 2030, sementara pasokannya saat ini baru sekitar 3 juta (angka estimasi). Namun, wawancara kerja untuk posisi junior kerap menggunakan live coding tanpa AI, sehingga pemahaman dasar tetap harus dikuasai.

Pada sesi tanya jawab, Faqih Ridho, mahasiswa Teknologi Informasi angkatan 2024, mengajukan dua pertanyaan. Pertama, ia menyoroti pembuatan aplikasi mobile yang kini terasa instan berkat AI, padahal aspek keamanan data sering kurang dipahami, terutama pada aplikasi yang menyimpan banyak data pribadi. Ia bertanya bagaimana cara membangun aplikasi yang aman dan metode penetration testing apa yang biasa dilakukan. Menjawab hal tersebut, Abdullah Faqih menyampaikan bahwa pengujian keamanan pada dasarnya dilakukan lebih dulu oleh tim internal, lalu dilanjutkan dengan menggandeng perusahaan penetration testing yang lebih profesional. Menurutnya, biaya jasa tersebut umumnya bergantung pada banyaknya masalah yang ditemukan.

Faqih Ridho, mahasiswa Teknologi Informasi angkatan 2024, mengajukan pertanyaan kepada pembicara pada sesi tanya jawab.  

Pertanyaan kedua dari Faqih Ridho menyangkut penentuan harga project di era AI, ketika pengerjaan terasa makin mudah. Ia menanyakan bagaimana cara mengetahui nilai sebuah project. Abdullah Faqih menjelaskan bahwa untuk project yang dikerjakan mahasiswa, harganya kira-kira Rp1-2 juta untuk project yang mudah dan Rp4-5 juta untuk yang lebih sulit karena skill mahasiswa masih terbatas. Untuk tingkat profesional, harga dihitung berdasarkan fitur yang diklasifikasikan menurut tingkat kesulitan dan lama pengerjaan. Semakin cepat target penyelesaiannya, semakin mahal harganya  

Seusai kegiatan, Angga Firmansyah, mahasiswa Teknologi Informasi angkatan 2024 semester 5, mengaku pandangannya bahwa AI tidak dapat menggantikan developer justru semakin kuat setelah mengikuti kuliah tamu. “Hal yang tidak bisa dipikirkan oleh AI itu adalah pendekatan empati ke manusia, dan itu perlu pemikiran organik dari manusia sendiri,” ungkapnya. Menurutnya, kuliah tamu ini memvalidasi pemikirannya karena pembicara menekankan pentingnya belajar dasar-dasar pemrograman dan cara berpikir dalam merancang solusi digital. Hal yang paling berkesan baginya adalah kesempatan mengetahui cara berpikir seorang CTO, termasuk keterampilan yang perlu dikuasai dan perjalanan karier dari junior developer hingga CTO. “Kita bisa jadi tahu sudut pandang seseorang yang memiliki tanggung jawab yang besar,” jelasnya. 

Sesi foto bersama pemateri, dosen, dan mahasiswa peserta kuliah tamu sebagai penutup rangkaian acara. 

Sebagai tindak lanjut, Abdullah Faqih mengajak mahasiswa membuat satu aplikasi kecil dalam minggu ini, memakai AI sebagai pendamping, dan memastikan setiap barisnya dipahami. Ia juga mendorong mahasiswa membiasakan alur kerja nyata sejak kuliah, seperti memakai Git, saling melakukan code review, dan memperlakukan tugas seperti brief klien.

Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals

  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui pembekalan literasi AI, pemahaman dasar pemrograman, dan praktik kerja nyata kepada mahasiswa agar kompetensinya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui pemaparan peluang kerja, kebutuhan talenta digital, serta gambaran penentuan harga project bagi calon mobile developer.

Keterkaitan tersebut menunjukkan arah kontribusi terhadap pendidikan dan kesiapan kerja mahasiswa, sedangkan peluang karier mahasiswa di bidang mobile development masih dapat dijajaki lebih lanjut.

Reporter: Mutiara Diva

=================================================================

Informasi disediakan oleh:
Departemen Teknologi Informasi
Website: its.ac.id/it
Instagram: its_teknologi_informasi
Youtube: Teknologi Informasi ITS