
Kampus ITS, ITS News — Masuk ke dalam daftar World Top 2% Scientists 2026, Profesor Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD konsisten menorehkan kiprah di dunia riset dan inovasi. Penelitiannya berorientasi pada pemanfaatan teknologi untuk memecahkan permasalahan di berbagai bidang, mulai dari kesehatan hingga lingkungan.
Di bidang kesehatan, lelaki yang akrab disapa Riyan ini mengembangkan i-nose c-19, yakni perangkat yang dirancang untuk mendeteksi Covid-19 melalui pola bau keringat ketiak. Ia menjelaskan bahwa alat ini bekerja dengan mengecek sampel keringat untuk diproses menggunakan akal imitasi (AI). “Proses pengambilan sampel dan analisis digunakan dalam satu alat sehingga praktis,” tambahnya.
Alumnus Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengungkapkan bahwa i-nose c-19 dikembangkan untuk mendukung skrining Covid-19 yang lebih cepat dan terjangkau selama pandemi. Kehadiran perangkat ini menjadi alternatif pemeriksaan awal, terutama ketika biaya tes Polymerase Chain Reaction (PCR) masih menjadi salah satu kendala bagi masyarakat saat itu.
Tidak berhenti di situ, Riyan juga memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah di bidang pertanian dan lingkungan. Lelaki kelahiran Surabaya itu menaruh perhatian pada pencemaran akibat limbah kelapa sawit yang berdampak pada kualitas lingkungan. “Limbah tersebut perlu diolah agar tidak terus mencemari lingkungan,” terangnya.

Berangkat dari hal tersebut, salah satu pendiri Departemen Teknik Komputer ITS itu mengembangkan sistem pengolahan limbah sawit dengan memanfaatkan mikroalga. Mikroalga berperan menyerap nutrien dan membantu mengurangi kandungan pencemar dalam limbah sawit. Proses pengolahan ini nantinya dipantau secara langsung dengan memanfaatkan Internet of Things (IoT).
Penelitian di bidang kesehatan dan lingkungan tersebut mencerminkan upaya Riyan dalam menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kontribusi keilmuan ini mengantarkan Riyan untuk kembali masuk ke jajaran World Top 2% Scientists 2026 yang disusun oleh Stanford University dan Elsevier. Dekan Fakultas Teknologi Informasi ITS periode 2006–2010 itu menjadi satu-satunya nama yang tercatat dalam dua kategori sekaligus.
Tak hanya berfokus pada pengembangan penelitiannya, Riyan juga berupaya menumbuhkan budaya riset di kalangan mahasiswa ITS. Berbekal pengalamannya berkuliah di University of New Brunswick, Kanada, Riyan mendorong budaya belajar dan diskusi yang fleksibel dan tidak terbatas pada ruang kuliah. Riyan membebaskan mahasiswa untuk mempelajari hal yang mereka minati untuk dijadikan bahan riset. “Saya menyarankan mahasiswa untuk mencari kesenangan dalam meneliti,” ungkapnya.
Penelitian yang Riyan kembangkan sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. Selain itu, karya Riyan juga sejalan dengan poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Hingga saat ini, Riyan terus mengembangkan berbagai karya melalui penelitian yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. (*)
Reporter: ION 1
Redaktur: A. Rifda Yuni Artika