Profesor ITS dan UMT Tekankan Peran Pendidik untuk Pembentukan Karakter

Terbit pada

Senin, 21 September 2026

Oleh
arsita
33

Perkembangan teknologi, khususnya dalam penggunaan kecerdasan artifisial atau akal imitasi (AI), menjadi fenomena umum yang terjadi saat ini. Termasuk, fenomena penggunaan AI pada bidang pendidikan. Guru dan siswa semakin akrab dengan penggunaan AI dan terjadi pola kebiasaan interaksi yang baru dalam ruang kelas. Muncul kekhawatiran bahwa karakter peserta didik akan bergantung pada AI untuk jawaban cepat.

Berangkat dari kondisi tersebut, Dewan Profesor ITS (DP ITS) dan Universiti Malaysia Terengganu (UMT) berkesempatan untuk berbagi pandangan pada kegiatan International Seminar for Future Education dengan tema “Pendidikan dan Pembentukan Karakter Manusia”, yang diselenggarakan oleh SMK Muhammadiyah 7 (SMK MUTU) Gondanglegi, Kabupaten Malang. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 21 September 2026 tersebut menghadirkan guru besar ITS dan guru besar dari UMT untuk berdiskusi dengan para tenaga pendidik dari SMK MUTU.

Guru Besar ITS yang hadir di antaranya, Prof. Dr. Imam Robandi, ST., M.T., IPU., Prof. Drs.Ec. Riyanarto Sarno, M.Sc., Ph.D., dan Prof. Dr. Vita Ratnasari, S.Si., M.Si. Sementara guru besar dari UMT adalah Prof. Ts. Dr. Muhammad Suzuri bin Hitam dan Prof. Ts. Dr. Amiza binti Mat Amin.

Secara berurutan dari kiri: Prof. Amiza (UMT), Prof. Vita (ITS), Prof. Imam Robandi (ITS), Prof. Suzuri (UMT), dan Prof. Riyanarto (ITS) pada saat seminar di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi

Pentingnya Peran Pendidik dan Lingkungan Pembelajaran

Sebagai pembuka diskusi, Prof. Imam Robandi, selaku Ketua Dewan Profesor ITS (DP ITS), menyampaikan bahwa peran guru dan lingkungan sekolah adalah menjadi penting dalam pembentukan karakter siswa. Bagaimana kebiasaan dan pola dalam kelas dapat membentuk karakter masing-masing siswa dan mempersiapkan kompetensi siswa, utamanya keahlian vokasional, sesuai dengan kebutuhan profesional.

Sejalan dengan Prof. Imam, Prof. Muhammad Suzuri bin Hitam dari UMT turut menyampaikan bahwa keberadaan guru dan kekuatan niat untuk mencerdaskan siswa menjadi penting. Prof. Suzuri memberikan analogi, bahwa para guru selayaknya seperti baterai yang siap untuk membagikan sumber daya dan pemikiran kepada para siswa. Sebagaimana baterai, maka guru juga harus memastikan bahwa tenaga yang dimiliki juga dalam kondisi penuh, agar mampu optimal dalam memindahkan atau transfer ilmu ke siswa.

Adaptasi Pendidik dalam Menyikapi Akal Imitasi (AI)

Dari segi perkembangan teknologi masa kini, Prof. Riyanarto Sarno, sebagai guru besar dari Departemen Teknik Informatika ITS, menekankan kepada para guru untuk menjadi lebih kreatif dalam metode pembelajaran. Penggunaan AI dan mudahnya akses informasi tidak dapat dibatasi, maka dari itu kemampuan guru harus lebih dari AI. Sebagai contoh, Prof. Riyanarto mengharapkan terjadi perubahan pola pertanyaan dalam ujian atau evaluasi siswa. Hal ini dapat mendorong tingkat berpikir kritis dan mengembangkan potensi siswa agar tidak mudah beralih pada jawaban AI. Guru dapat berkreasi menggunakan pertanyaan yang bersifat lanjutan, tidak sekadar menggunakan kata tanya dasar seperti “sebutkan dan jelaskan”.

Sementara Prof. Vita juga mengamini bahwa para guru harus meningkatkan diri. Berbagi dari pengalaman sebagai seorang Ibu, masa studi, hingga menjadi guru besar di Departemen Statistika ITS, Prof. Vita meminta kepada para pendidik, utamanya para perempuan untuk tetap belajar dan bersekolah lagi hingga jenjang tinggi. Melanjutkan jenjang pendidikan menjadi penting, sekaligus menyadari bahwa peran pendidik justru menguatkan peran sebagai seorang perempuan.

Penyerahan Sertifikat apresiasi dari Kepala SMK Muhammadiyah 7, Munali, S.Pd., M.Pd., kepada Prof. Amiza binti Mat Amin (UMT)

Sejalan dengan Prof. Vita, Prof. Amiza binti Mat Amin menyampaikan bahwa untuk peningkatan pendidikan seorang tenaga pendidik, ada banyak jalan yang ditempuh. Salah satunya melalui beasiswa pendidikan yang semakin mudah diakses, bahkan hingga lintas negara. Prof. Amiza selaku Pengarah PPS (Pusat Pengurusan Siswazah) atau Post-Graduate Management Center menyampaikan bahwa di UMT juga terdapat beasiswa dari mahasiswa magister untuk dapat melanjutkan ke jenjang doktoral. Prof. Amiza juga menyebutkan bahwa secara jumlah, mahasiswa Indonesia cukup mendominasi di UMT dan kesempatan pemberian beasiswa tersebut bersifat first come, first serve.

Melalui kegiatan ini, ITS turut mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu tentang Pendidikan Berkualitas. ITS berperan aktif dalam upaya pendidikan inklusif dan merata, mempromosikan kesempatan belajar sepanjang hayat dan memberikan perhatian terhadap akses pendidikan vokasional.