Kisah Georgi Menaklukkan LPDP ke UC Berkeley

image
Merupakan suatu prestasi prestisius ketika seorang mahasiswa diterima untuk melanjutkan studi ke universitas berkelas dunia, apalagi di empat universitas ternama di Amerika Serikat (AS) sekaligus. Georgi Ferdwindra Putra, alumnus Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) angkatan 2012 akhirnya berhasil menaklukkan University of California (UC) Berkeley dengan beasiswa Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP). Kuncinya? ialah dengan menyiapkan strategi seefektif mungkin sebelum mendaftar beasiswa.

Georgi, sapaan akrabnya mengaku, dalam proses pendaftarannya ke jenjang S2 dan beasiswa LPDP, strategi merupakan faktor yang berpengaruh besar. Buktinya, dengan strategi yang tepat ia juga dapat menaklukkan New York University (NYU), Brown University, University of Florida dan Stanford University di waktu bersamaan. Padahal keempatnya, sama dengan UC Berkeley, merupakan universitas yang menjadi idola oleh seluruh bangsa-banga di dunia.

Untuk itu, Georgi membeberkan kisahnya yang bisa menjadi tips dan trik bagi mahasiswa ITS lainnya dalam menyusun strategi agar sukses diterima di universitas ternama di dunia:

1. Kenali Kebutuhan Target
Dilihat dari lembaga penyedianya, beasiswa dapat dikategorikan menjadi lima jenis. Beasiswa dari pemerintah negara asal, beasiswa dari pemerintah negara tujuan, beasiswa kampus, beasiswa professor, dan beasiswa oleh sebuah perusahaan atau foundation.

''Setiap beasiswa pastilah memiliki kriteria tertentu. Bukan melulu soal Indeks Prestasi Komulatif (IPK) lho. Atau apa saja prestasimu. Namun lebih kepada siapa kamu, apa tujuan hidup kamu, dan apa yang bisa kamu beri pada mereka (universitas atau pemberi beasiswa, red),'' jelas Georgi.

2. Jangan Takut Menjadi Berbeda
''Saya orang aneh,'' kelakar Georgi saat dihubungi ITS Online. Mahasiswa yang tengah mengambil Jurusan Civil Engineering and Project Management ini menjelaskan bahwa ia aneh karena memiliki pemikiran berbeda dengan teman satu departemennya kebanyakan.

Ia pernah dicemooh terkait keputusannya untuk tidak ingin melamar pekerjaan. Alih-alih ingin bekerja untuk orang lain, Georgi memendam mimpi untuk menciptakan lapangan kerja untuk orang lain. ''Kuliah di bidang sipil kok cita-citanya jadi pengusaha. Begitu mungkin apa yang mereka pikirkan,'' kenang Georgi.

Ia mengaku bahwa dirinya bercita-cita membangun sebuah bisnis kontruksi digital yang merupakan penggabungan antara teknologi dan basis keprofesiannya. Mimpi itu kemudian ia wujudkan dalam tugas akhirnya.

''Hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah, jangan pernah takut menjadi berbeda meski harus dicemooh dan dipandang rendah. Justru ketika mimpimu belum sampai pada titik di mana orang-orang meragukanmu, kamu harus bertanya kembali pada dirimu, sudah cukup besarkah mimpi saya?'' jelasnya.

3. Petakan Hidupmu
Masih tentang mimpinya berwirausaha, Georgi mengaku dirinya benar-benar menjaga konsistensi mimpinya. ''Sebagai seorang mahasiswa, pastilah ada banyak dorongan untuk terjun ke berbagai aktivitas. Namun kita harus tegas, lakukan apa yang dapat membawamu pada mimpi itu,'' tegasnya.

Ia melanjutkan, seseorang harus memberlakukan cara connecting the dots (menyambung titik-titik, red). ''Apa yang kamu lakukan saat ini bisa jadi kamu syukuri atau malah kamu sesali,'' ungkap penyabet posisi keempat Mahasiswa Berprestasi tingkat institut tahun 2016 ini.

''Hal-hal yang saya jalani dalam tiga setengah tahun masa perkuliahan saya, semua itu bukan tanpa pertimbangan,'' terang Georgi. Misalnya ketika ia memutuskan tidak bergabung ke ormawa, memutuskan berani bermimpi sekolah ke Amerika Serikat hingga memutuskan lebih memilih UC Berkeley dari pada Stanford karena lokasinya yang tidak jauh dari Sillicon Valley.

Georgi percaya seseorang yang cerdas adalah ketika dia memegang kendali penuh atas pilihan hidupnya, tidak terkecuali keberanian mengambil risiko. ''Berhasil atau gagal, everything depends on me. Semua bergantung pada diri saya sendiri,'' ujarnya penuh keyakinan.

4. Rayu dengan Personal Statement
Personal statement merupakan esai singkat mengenai mengapa institusi atau perusahaan tertentu harus memilih pelamar sebagai kandidat yang tepat untuk menempuh pendidikan atau karier di tempat tersebut. Tak hanya untuk mendaftarkan diri ke universitas, personal statement biasanya juga dibutuhkan untuk melamar kerja, menulis curriculum vitae hingga mendaftar beasiswa. Dan hal ini merupakan tolak ukur penting diterima atau tidaknya seseorang dalam lamaran universitas dan beasiswa tersebut.

Penerima beasiswa LPDP angkatan 2016 ini mengungkapkan bahwa menulis personal statement butuh kelihaian. Karena dalam membuat personal statement, seseorang harus mampu meyakinkan orang lain akan kualitas dirinya tanpa berbohong atau melebih-lebihkan. Tentunya dengan pengalaman, prestasi dan keahlian yang dimilikinya.

5. Dobrak Semua Batasanmu
Keterbatasan kemampuan bahasa. Mayoritas lulusan ITS akan menjawab hal tersebut apabila disodori pilihan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Hanya mentok di kawasan Asia.

Padahal, berdasarkan statistik di data.its.ac.id nilai TEFL para wisudawan mencapai rata-rata 492.6.'' Kurangnya keberanian untuk melampaui batas masih saja menjadi momok utama,'' ungkap mahasiswa yang pernah menjadi delegasi Indonesia dalam Harvard Project for Asian and International Relation ini.

Georgi kemudian mencontohkan dirinya yang dulu pernah juga mengalami masa-masa di mana keminderan masih menggelayutinya. Ya, Georgi mengaku dulunya pernah merasa rendah diri jika berhadapan dengan orang lain.

Bermodalkan keinginan mendobrak keterbatasannya, awardee beasiswa Erasmus Mundus tahun 2014 ini lalu mencoba membuka diri.''Saya putuskan saya harus menjadi seorang pemimpin. Bisa atau tidak bisa itu urusan belakang. Saya harus maju dan berbicara,''kenang Georgi. Alhasil, berkali-kali Georgi didapuk sebagai ketua pelaksana kegiatan-kegitan yang diadakan ITS International Office.

Untuk itu, Georgi mendorong semua pemuda untuk memiliki keberanian untuk menerjang batasan dirinya. Karena hal tersebut dapat membuat seseorang naik ke level kualitas diri selanjutnya. Kualitas diri ini nanti yang akan sangat berguna tak peduli pilihan masa depan seseorang, entah ingin menjadi pengusaha, akademisi, hingga profesional. Hal itu juga yang dapat memenangkan konten dari personal statement-nya. (saa/gol)