Karakter Ideal Lulusan ITS

image
Banyak orang menyebut karakter merupakan bagian penting dalam jati diri manusia. Pemerintah pun sering menyerukan pentingnya pendidikan karakter untuk membangun regenerasi bangsa. Sebelum melangkah lebih jauh, sebenarnya apakah karakter itu? Samakah dengan sifat, kepribadian, dan keterampilan? Lalu seperti apakah karakter ideal yang dibutuhkan dunia kerja dan bagaimana proses pembinaan karakter di ITS?

Hal tersebut dikupas tuntas melalui buku Desain Karakter Mahasiswa ITS yang telah dirilis oleh Pusat Aktivitas Kemahasiswaan (PAK) ITS. Salah satu penulis sekaligus Kepala Student Advisory Center (SAC) ITS, Dr Widyastuti SSi MSi menjelaskan, buku ini merupakan desain karakter yang sifatnya berkelanjutan. "Untuk merancang desain karakter yang selanjutnya, tidak perlu mengulang dari awal, tinggal memperbaiki yang ada di buku ini," ujar perempuan yang akrab disapa Wiwid ini.


Menurut Wiwid, karakter sendiri serupa dengan kepribadian, yaitu cara berpikir dan bersikap seseorang terhadap sesuatu yang dihadapinya. Selanjutnya, Wiwid berpendapat, mendidik karakter bisa dilakukan dengan melatih hardskill dan softskill seseorang. "Tugas ITS sebagai institusi pendidikan adalah memproses mahasiswa sehingga nantinya didapatkan output yang kompeten," kata dosen Departemen Teknik Material & Metalurgi ITS ini. 

Ia menyebutkan, hardskill dapat dilatih saat proses pembelajaran akademik. Sedangkan untuk melatih softskill, porsi terbesar terdapat di PAK. PAK sendiri mewadahi berbagai kegiatan mahasiswa seperti keorganisasian mahasiswa, pelatihan spiritual, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). 

Wiwid menerangkan, pendidikan karakter ini diciptakan melalui proses yang panjang. Ia mencontohkan, Team Ichiro yang dibentuk tahun 2004, dulu capaiannya sekedar peserta dan runner up pada awal berdiri. Barulah beberapa tahun terakhir Ichiro menguasai kompetisi nasional dan berada di level internasional.

Dalam buku Desain Karakter Mahasiswa ITS, Wiwid beserta timnya menyajikan beberapa data terkait karakter yang dibutuhkan pasar kerja. Mengutip National Association of Colleges and Employers (NACE), buku tersebut menempatkan kemampuan berkomunkiasi pada urgensitas pertama. Sedangkan IPK di atas tiga memiliki urgensitas di urutan ke-16.

"Menyampaikan gagasan dan menunjukkan keilmuan kita itu kan butuh skill komunikasi. Mungkin hal seperti itu yang membuat komunikasi menjadi penting," terang pakar komposit logam ini. Kemudian, di buku tersebut juga dimuat kemampuan yang harus dimiliki di abad ke-21 dan profil lulusan ITS.

Dalam desain profil lulusan ITS, Wiwid beserta tim menggambarkan capaian yang diharapkan dalam proses pembelajaran. Terdapat tujuh poin profil lulusan ITS, yaitu bertaqwa kepada Tuhan, berkarakter pemimpin, komunikatif dan kreatif, peka dan memiliki wawasan kebangsaan, berjiwa technopreneur, berwawasan teknologi, dan kompeten sesuai bidang keilmuan.

SAC melengkapi buku ini dengan hasil tes psikologi mahasiswa baru tahun 2012 hingga 2016. Di sana tampak hasil dari aspek ketahanan, kepemimpinan, dan kerjasama tim. "Tahun ini baru dimulai tes psikologi untuk wisudawan, sehingga hasil tes untuk dibandingkan masih belum keluar," ungkapnya.

Kendati ada banyak faktor penentu karakter seseorang, pendidikan masih menjadi salah satu medianya. Mengutip tulisan Mohammad Hatta dalam buku Tanggungjawab Kaum Intelegensia, ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, akan tetapi manusia yang berkarakter tidak diperoleh dengan begitu saja.

Dosen dan para pendidik merupakan sosok yang bertanggung jawab akan proses penyampaian ilmu serta pemecahan masalah dalam pembentukkan karakter. Namun, lanjut Hatta, mahasiswa sendiri harus ikut serta mendidik dirinya sendiri. Lantas, bagaimana ITS menyikapi tantangan dalam proses mendidik tersebut guna menjawab karakter idaman di dunia kerja? (yan/owi)