Lulus 3.5 Tahun, Sudah Siapkah Kamu?

image
Lulus tepat waktu adalah dambaan semua mahasiswa. Ya gak ? Setiap ketemu orangtua, keluarga besar dan orang sekitar, entah yang benar-benar mendoakan atau mungkin mereka sedang bingung ingin membuka topik pembicaraan, kata yang paling sering dan mudah terucap adalah "semoga cepat lulus". Mereka tidak peduli dengan yang masih semester awal atau semester akhir. Yang mereka tahu adalah kita sedang kuliah dan tujuan  lulus, lalu mencari pekerjaan.

Bagaimana dengan nasib para mahasiswa yang lulus 3,5 tahun? Kelihatannya ini menjadi kegelisahan bagi para mahasiswa tahun terakhir. Sudah lelah menempuh bangku kuliah, yang pasti para pengejar 3,5 tahun ini punya alasan masing masing. Mulai dari alasan ekonomi, ingin cepat menikah atau hanya untuk sekedar eksistensi saja ingin mendapat gelar diwisuda 3,5 tahun. Hal yang paling mendasar sebenarnya adalah dengan mengambil studi yang lebih singkat, sudah siapkah kita?

Sebenarnya disini saya juga masih menyesali belum memiliki kontribusi banyak selama studi 3,5 tahun belakangan ini. Waktu 3,5 tahun menurut saya bukan waktu yang singkat, namun sangatlah disayangkan jika hanya mengambil manfaatnya saja untuk mengambil ilmu dan kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Apalagi tidak mengembalikannya kepada fakultas, universitas dan Negeri tercinta.

Menurut saya, 3,5 tahun bukan waktu yang singkat untuk mengukir sejuta aksi, aktif dalam organisasi, melakukan pengabdian masyarakat, penelitian maupun kewirausahaan. Memberi kontribusi pemikiran dalam kajian-kajian diskusi atau dalam bentuk aksi nyata, baik dalam kegiatan keilmuan, lingkungan, sosial, budaya, seni, keprofesian dan jutaan aksi lainnya. Lalu menuangkannya dalam karya melalui essay, karya tulis dan tulisan lain.

Sekali lagi, 3,5 tahun bukan waktu yang singkat untuk memberi kontribusi. Sudah kah kita? Jika belum, lalu apa yang telah kita lakukan selama 3,5 tahun ini? Dan pertanyaan selanjutnya adalah, lulus 3,5 tahun sudah pantas kah kita?

Lulus prematur, tetapi jangan sampai segala sesuatunya dipersiapkan dengan instan, serba tergesa-gesa, serba dikejar deadline, hingga melupakan untuk merencanakan langkah. Atau, bahkan melupakan mimpi, melupakan passion bidang profesi, demi mendapat gelar sarjana 3,5 tahun.

Para pejuang 3,5 jangan sampai tergesa-gesa hingga mengesampingkan kualitas garapan skripsi kita, agar bisa cepat lulus dan mendapatkan gelar. Meskipun tidak ada penghargaan khusus untuk skripsi terbaik, tapi seharusnya skripsi dikerjakan dengan sungguh - sungguh.

Saya teringat salah satu dosen di jurusan saya. Dikatakannya, tujuan skripsi bukan hanya sebagai syarat lulus. Tetapi tujuan utama skripsi adalah untuk mengedukasi. Oleh karena itu, skripsi dibuat dalam bentuk laporan. Supaya bisa dibaca oleh adik - adik angkatan kita ataupun khalayak umum.

Dibalik kontroversi yang tiada ujung di kalangan mahasiswa, sebenarnya lulus 3,5 tahun atau 4 tahun adalah sama baiknya. Baik jika lulus 3,5 tahun namun disertai Indeks Prestasi yang cemerlang meski tanpa mengulang, skill yang tidak diragukan meski dipelajari hanya dalam 3,5 tahun, segudang prestasi dan kontribusi yang siap digunakan untuk bekal masa depan, disertai dengan mental sekaligus kemampuan leadership yang baik yang didapat dari pengalaman organisasi dan sudah terencana dengan sangat matang.

Sudah dipersiapkan untuk lulus 3,5 tahun dan tentunya  master plan apa yang akan dilakukan setelah lulus baik untuk bekerja. Wirausaha atau melanjutkan studi yang tentunya linear dengan apa yang selama ini digeluti di bangku kuliah. Sehingga para pejuang 3,5 ini kelak jika ditanya ''Apa ilmunya sudah cukup?", "Apa sudah menguasai skill ini itu?", "Apa sudah siap mental untuk memasuki dunia kerja?". Dan dengan bangganya para pejuang 3,5 akan menjawab semua pertanyaan dengan sangat percaya diri, disertai jawaban pamungkas "Waktu bukan menjadi alasan untuk menjadi luar biasa, jika yang lulus 4 tahun pun juga masih banyak yang belum siap, lulus 3,5 tahun mengapa tidak, jika semua sudah dipersiapkan untuk menjadi siap?"

Di sisi lain, lulus 4 tahun pun juga baik. Lantas yang sering dipertanyakan adalah, kenapa harus 4 tahun jika 3,5 tahun pun bisa? Lalu satu semester 8 saat sudah tidak ada beban mata kuliah, apa yang harus dilakukan di kampus? Mereka justru memiliki ruang lebih banyak untuk memanfaatkan status mahasiswanya lebih lama. Satu semester terakhir bisa digunakan untuk menggenjot prestasi, student exchange, kontribusi di organisasi atau menambah skill dengan magang.

Lantas yang kurang baik yang seperti apa? Yang kurang baik adalah yang lulus 3,5 tahun dengan tergesa-gesa, yang hanya ingin mengejar kecepatan waktu, tanpa ada kontribusi, prestasi, skill dan ilmu yang masih sangat minim, mental yang belum terlatih dan tidak merencanakan masa depannya karena yang diprioritaskannya hanyalah hasil, yaitu cepat lulus.

Terlepas dari perdebatan tiada ujung antara lulus 4 tahun atau 3,5 tahun, waktu lulus adalah sebuah pilihan, yang pasti harus direncanakan dengan matang. Jika lulus 3,5 tahun harus dipersiapkan rencana selanjutnya untuk studi lanjut atau bekerja. Sedangkan jika lulus 4 tahun pun juga harus dipersiapkan, apa saja yang akan dilakukan saat semester terakhir untuk mengerjakan skripsi sembari melakukan hal-hal yang produktif dan mempersiapkan hal-hal yang belum dipersiapkan. Semangat berjuang para mahasiswa tingkat akhir!



Ferdiansyah Iqbal Rafandi
Alumni Teknik Material 
Angkatan 2013