Semangat Suro-Boyo Hantarkan ITS Juara Umum di Malaysia

image
Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan taringnya di pentas internasional. Membawa semangat budaya lokal, para mahasiswa Departemen Teknik Infrastruktur Sipil berhasil menjadi juara umum pada ajang Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Bridge Model Competition 2017 di Johor, Malaysia.

Dalam lomba yang diadakan pada Rabu (29/3) tersebut, tim ITS membuat jembatan yang mengusung tema budaya lokal. Dari segi desain, jembatan dengan panjang 1,2 meter dan lebar 0,5 meter ini dirancang menyerupai ikon kota Surabaya, Suro dan Boyo.

Fathirul Rachman, salah satu anggota tim ITS, menjelaskan bahwa filosofi Suro-Boyo mereka tanamkan pada bentuk dari lantai kendaraan dan rangka atas jembatan. "Jadi rangkanya terispirasi dari bentuk lekukan dari Suro (hiu). Sedangkan lantai kendaraan dari jembatan kita dirancang seperti bentuk badan dari boyo (buaya)." ujar Fath pada ITS Online.

Tak ayal jembatan yang dibangun dengan material utama kayu balsa ini berhasil mencuri perhatian tim juri. Selain memiliki keunikan dari segi bentuk, jembatan buatan mahasiswa ITS juga unggul dari segi bobot dan daya tahan. Hasil pengujian menunjukkan jembatan tersebut memiliki berat 140 gram dengan lendutan 0,04 mm.

Hal itulah yang akhirnya berhasil mengantarkan mereka menjadi juara umum mengalahkan 150 peserta dari negara lain. "Alhamdulillah rancangan kita sesuai dengan target awal, bisa menjadi yang paling kuat dan ringan," ucap mahasiswa asal Jombang tersebut.

Disamping keunggulan dari bentuk jembatan, Fath mengatakan totalitas tim ITS saat tahap presentasi juga memiliki peran yang besar mengantarkan mereka menjadi juara. Mengikuti saran dari dosen pembimbing, Ridho Bayuaji ST MT PhD, tim ITS tampil dengan menggunakan baju dan topi khas Madura. Keunikan budaya Indonesia itu lah yang berhasil menarik perhatian dewan juri.

"Awalnya kita memang ingin memperkenalkan budaya Indonesia, sekaligus agar bisa tampil beda. Syukurnya strategi ini berhasil, ditambah lagi orang-orang di sana juga memang menyukai budaya kita," kenang Fath.

Fath pun menceritakan selama mengikuti lomba ia dan timnya tidak menemukan kesulitan berarti dalam membuat jembatan tersebut. Selain karena bentuknya yang sederhana, persiapan yang matang membuat tim ITS berhasil membuat ulang jembatan mereka dalam waktu dua jam saja. "Kita sudah uji coba sampai empat kali sejak November lalu. Jadi kita datang ke Malaysia memang dengan persiapan yang matang," ujarnya.

Kini setelah kesuksesan yang diraih oleh timnya, Fath berharap prestasi ini bisa menginspirasi mahasiswa ITS lain. Menurutnya, mahasiswa ITS harus lebih percaya diri terutama terkait perbedaan bahasa dengan mahasiswa asing. "Jangan sampai permasalahan bahasa menjadi penghalang bagi kita untuk unjuk kebolehan di pentas dunia, yang penting usaha terlebih dahulu. Semuanya bisa dipelajari," pesan Fath menutup perbincangan. (mik/mis)