Anak Teknik, Kuat atau Sok Kuat?

image
Jurusan teknik seringkali dikaitkan dengan bandar tugas-tugas hingga mafia deadline. Stigma ini menyeruak hingga muncul anggapan bahwa anak teknik begitu tahan banting ketimbang jurusan lain.  Sebagai mahasiswa yang bukan hanya kuliah di jurusan teknik, melainkan juga kampus teknik ITS, saya berfikir hal itu tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak sepenuhnya salah. Tidak hitam, tidak putih, namun abu-abu.

Kebanyakan orang menganggap jurusan teknik sebagai pembawa mimpi buruk bagi mahasiswanya. Sebagaian lagi bahkan menyangkal anggapan tersebut dengan anekdot yang lebih menohok. "Tidur saja tidak sempat, bagaimana bisa bermimpi buruk?".

Kemudian banyak yang mengucap bahwa anak teknik itu kuat. Kuat dalam mengatasi banyaknya amanah yang diemban, baik dari sisi akademik maupun organisasi. Anak teknik bahkan terbiasa lembur hingga subuh demi merampungkan tanggung jawabnya. Benarkah?

Saya sependapat bahwa anak teknik memang gemar mengoleksi begitu banyak tugas. Saking banyaknya sampai-sampai mereka harus rela bolos sebuah kelas demi mengejar deadline dari tugas kelas yang lain. Saking banyaknya sampai-sampai jam 12 malam selalu terasa layaknya jam tiga sore.

Lalu, bukankah setiap hari sabtu dan minggu segala jenis kegiatan perkuliahan wajib dikosongkan? Ada yang beralasan sabtu dan minggu adalah harinya organisasi, terutama bagi mahasiswa baru yang kian disibukkan dengan berbagai proker himpunan mereka masing-masing.

Sebagaian yang berdomisili dekat memilih sabtu dan minggu sebagai waktu untuk pulang, menghabiskan waktu bersama orang tua. Ada lagi yang menghabiskan weekend-nya untuk berburu sertifikat dalam rentetan seminar. Atau yang ini dan yang itu.

Namun yang terburuk adalah golongan yang menghabiskan dua hari tersebut untuk bermalas-malasan. "Setelah lima hari penuh tekanan, dua hari ini adalah waktu untuk pelampiasan," ujar sebagian orang, yang sialnya kadang saya sendiri pun demikian.

Kemudian saya ajukan kembali pertanyaan, benarkah memang sepadat itu? Hingga tiap detik harus benar-benar mengalir lewat pipa kompresi bertekanan tinggi. Tidak adakah pipa lain yang berukurang lebih longgar sehingga tekanannya dapat berkurang?

Memikirkan hal ini, saya meninjau lebih dalam perihal apa yang sebenarnya terjadi. Baik berdasarkan observasi terhadap pola hidup orang-orang disekitar saya, maupun pola hidup saya sendiri.

Seperti yang saya katakan di awal paragraf. Saya sependapat bahwa anak teknik memang gemar mengoleksi begitu banyak tugas. Saking gemarnya, mereka (bisa jadi termasuk saya) seringkali terlalu asik memajang tugas tersebut dalam sebuah lemari, dan lupa tidak mengeluarkannya lagi.

Sayangnya kapasitas lemari tersebut ada batasnya, sementara tugas demi tugas terus mereka timbun dalam lemari tersebut. Suatu hari, lemari itu telah penuh dengan rentetan tugas, dan mereka harus bersusah payah untuk mengeluarkannya satu-persatu, dalam waktu yang sangat terbatas. Bahkan mereka seringkali tidak tidur saat mengatur ulang isi lemari tersebut.

Intinya, sulit membedakan antara anak teknik itu kuat, atau hanya sok kuat. Kuat yang sebenarnya  adalah apabila mampu menyelesaikan tanggung jawab dalam rentang waktu yang begitu terbatas, yang memang hanya cukup untuk mengerjakan tugas dan kegiatan primer semata, tanpa ada sedikitpun waktu luang untuk mengerjakan hal-hal yang kurang penting.

Sedangkan sok kuat adalah, apabila seseorang telah sadar bahwa dirinya memiliki begitu banyak tanggung jawab, namun menunda untuk mengerjakannya. Ia beranggapan bahwa dirinya cukup kuat untuk merampungkan segala tanggung jawab tersebut dengan sisa waktu yang ia alokasikan di sepertiga malam terakhir.

Artinya, ada yang perlu diubah dalam pola ini. Mahasiswa perlu lebih mawas diri dalam mengatur agendanya. Perlu ditegaskan bahwa kuat bukan berarti harus tidur larut malam. Kuat bukan berarti mampu mengerjakan tugas dalam waktu singkat. Kuat bukan berarti mengikuti begitu banyak organisasi. Kuat bukan berarti rela tidak pulang dengan alasan menyelesaikan tugas.

Kuat adalah ketika seseorang mampu dengan bijak dalam memanfaatkan waktunya. Kuat adalah ketika seseorang mampu fokus saat melakukan seuatu. Kuat adalah ketika seseorang mampu dengan bijak memilih organisasi yang memang sesuai dengan kapasitas dirinya, bukannya ikut-ikutan. Kuat adalah ia yang dapat pulang karena segala tanggung jawabnya telah ia rampungkan pada hari sebelumnya.

Mari menjadi mahasiswa kuat.

Rifqi Nur Mukhammad
Mahasiswa Departemen Teknik Industri
Angkatan 2015