Raih Best Paper Berkat Absorben Eceng Gondok

image
Tiga mahasiswa ITS kembali torehkan prestasi di kancah nasional. Melalui Seminar Nasional Pengkajian dan Penerapan Teknologi (SNPPT) 2017, ITS berhasil menyandang predikat Best Paper dalam ajang gelaran Universitas Mercu Buana, Jakarta, Sabtu (4/2).

Kegiatan yang bertajuk Teknologi Hijau untuk Menjamin Keberhasilan Pembangunan yang Berkelanjutan itu membuat tiga mahasiswa Departemen Kimia pulang dengan bangga. Muhammad Mualliful Ilmi, Naimatul Khoiroh dan Trisna Bagus Firmansyah yang harus melalui beberapa babak seleksi sebelum dinyatakan sebagai juara.

"Pertama kali kami seleksi paper. Full paper dikumpulkan dan dikaji oleh reviewer, kemudian dipilih 73 paper terbaik," ungkap Ilmi, ketua tim. Kemudian 73 peserta yang lolos diberi kesempatan untuk mempresentasikan paper-nya di Universitas Mercu Buana.

Ilmi mengungkapkan, aspek yang dinilai bukanlah presentasinya, melainkan kualitas paper. Sehingga juara diumumkan sebelum melakukan presentasi.

Dalam papernya, Ilmi dan tim mengangkat penelitian terkait pembuatan suatu absorben dari bahan dasar eceng gondok. Seperti yang kita tahu, eceng gondok yang berlebihan di perairan sangat mengganggu estetika. Selain itu, bisa menimbulkan pendangkalan, juga dapat mematikan organisme di sekitarnya karena menghalangi masuknya sinar matahari dan udara masuk ke perairan.

Tak hanya itu, kendala mengenai kualitas air di Indonesia juga melatar belakangi pembuatan paper. Banyak sekali jenis zat pengotor air seperti logam berat maupun senyawa pewarna. Tak jarang kita sering kali menjumpai air yang keruh. Air yang keruh tersebut mengandung banyak sekali zat terlarut, zat pewarna dan sebagainya.

Karena banyak hal tersebut, timbul keinginan Ilmi dan tim untuk memanfaatkan eceng gondok dalam upaya menghilangkan zat pengotor air. "Eceng gondok tadi dibuat karbon dan dimasukkan ke dalam cairannya, nanti carirannya diuji," ujar mahasiswa 2014.

Bermula dari Praktikum Kuliah

Uniknya, paper ini hanya bermula dari praktikum kuliah di departemennya. Ketika peserta lain memiliki paper hasil pembuatan skripsinya, tugas akhir maupun tesis, Ilmi dan timnya bangga karena juaranya, hanya bermodalkan praktikum saat kuliah.

Namun, pembuatan paper dirasa memakan waktu cukup lama karena mereka harus melakukan praktikum terlebih dahulu. Menjadi juara tak serta merta didapatkan dengan mudah. Perjuangan saat praktikum juga dikisahkannya.

"Kita harus bersabar antre dengan beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan Tugas Akhir. Walaupun proses pembuatan karbon aktif butuh waktu sehari semalam," kisahnya.

Berhasil mengatasi berbagai kendala kala praktikum, alhasil usaha tim kontingen ITS pun mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Surabaya. (id/riz)