Tujuh Proposal ITS Tembus Program CPPBT

image
Tujuh proposal penelitian Insititut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dalam program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) dinyatakan terdanai. Program rintisan pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ini ditujukan untuk mendukung hilirisasi riset perguruan tinggi.

Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS, menegaskan bahwa tujuan dari CPPBT memang untuk menunjang program hilirisasi hasil riset perguruan tinggi.

Adi mengaku, ITS mendaftarkan 13 penelitian dalam program ini, namun enam diantaranya tidak berhasil terdanai hingga tahap pendanaan. "Kami mengajukan proposal sebanyak 13 buah. Sebelas diantaranya dapat tembus dari tahap administrasi, namun hanya tujuh proposal yang dapat bertahan hingga akhir." imbuh dosen yang mendalami bidang teknik sistem tenaga ini.

Ia mengungkapkan, proposal yang dinyatakan terdanai diantaranya berjudul Produksi Dan Perancangan Battery Management System Untuk Battery Jenis Lithium Ion dengan Andi Rahmadiansyah ST MT sebagai penanggung jawabnya. Kemudian, penelitian lain yang ikut terdanai berjudul Perusahaan Untuk Mengembangkan Dan Membuat Body Part Dan Aksesoris Otomotif yang dikepalai oleh Stefanus Eko Wiranto ST MT.

Judul selanjutnya adalah Perusahaan Rancang Bangun Dan Manufaktur Controller Motor Listrik Dan Sistem Komputer Utama Kendaraan Listrik yang dibawahi oleh Alief Wikarta ST MSc Eng PhD.  Lalu, Gesits Motor Listrik Indonesia: Rancang Bangun Bldc Motor Listrik Aksial oleh Dr Muhammad Nur Yuniarto.

Selain itu, proposal berjudul Powertrain Indonesia: Rancang Bangun Dan Pembuatan Chassis & Drive Train Kendaraan Listrik dengan Indra Sidharta ST MSc sebagai penanggung jawabnya turut dinyatakan terdanai.

Adi mengungkapkan, kelima proposal tersebut memang sengaja ditujukan untuk mendukung proses produksi suku cadang proyek motor listrik ITS yaitu Gesits. Sedangkan untuk dua proposal lainnya justru mengusung jenis penelitian yang berbeda.

Proposal tersebut berjudul Produksi Fasilitas Monitoring Keselamatan Instalasi Dan Bangunan Di Laut Berbasis Automatic Identification System (AIS) dengan A A Dinariyana Dwi Putranta ST MES PhD sebagai penanggung jawab.

Adapun proposal terakhir yang lolos lebih melirik ke arah produksi material, yaitu Perusahaan Penyedia Teknologi Smelter Nikel Berbasis Mini Blast Furnace yang dipegang oleh Sungging Pintowantoro ST MT PhD.

Mengenai alasan terpilihnya, Adi mengungkapkan riset yang diutamakan oleh Kemenristekdikti adalah jenis penelitian yang sudah matang. "Paling tidak harus sudah ada prototipe-nya karena itulah penelitian tersebut dapat terpilih," tandas dosen Departemen Teknik Elektro ITS ini.

Sementara untuk proses seleksi secara umum, terdapat tiga tahapan seleksi yang harus dilalui oleh setiap proposal yang diajukan. Antara lain seleksi administrasi atau Desk Evaluation, yang bertujuan memeriksa hal-hal teknis seperti kesesuaian konten proposal dengan persyaratan yang telah ditentukan serta kesesuaian penulisan berdasarkan format yang ditetapkan.

Tahap selanjutnya adalah seleksi substansi, yang meliputi beberapa aspek seperti teknologi inovasi, peluang pasar, keuangan dan rencana kegiatan CPPBT atau Action Plan.

"Tahap yang terakhir adalah fact findings. Dalam tahap ini, tim seleksi akan memverifikasi data dan informasi yang disajikan dalam proposal dan presentasi apabila diperlukan," papar Adi.

Adi menambahkan, dana riset yang diterima ITS akan disalurkan untuk berbagai keperluan dalam merintis sebuah perusahaan berbasis teknologi. "Misalnya dalam hal pembelian bahan baku, pengujian produk, pelatihan atau promosi," tandasnya.(qi/van)