Pakar Transportasi ITS Tanggapi Pembangunan AMC Surabaya

image
Pembangunan monorail di Kota Surabaya semakin gencar dibicarakan baik dikalangan masyarakat, pemerintah dan juga akademisi. Proyek yang digarap oleh  pemerintah kota (Pemkot) Surabaya sudah menuju tahap pembangunan. Dengan kondisi transportasi saat ini, apakah pembangunan Angkutan Massal Cepat (AMC) cukup layak untuk kota Surabaya? 

Ir Hera Widyastuti MT PhD, Kepala Laboratorium Perhubungan dan Bahan Kontruksi Jalan menjelaskan pembangunan AMC berupa monorail  di Surabaya sudah tepat dilakukan untuk kota Surabaya sejak dini. Pembangunan AMC ini guna memperbaiki sistem transportasi Surabaya yang saat ini masih kurang teratur sehingga terdapat beberapa titik yang menimbulkan kemacetan.  


"Pembangunan monorail ini merupakan salah satu langkah untuk memperbaiki kondisi tranportasi dan  menanggulangi kemacetan di Surabaya. Meskipun kemacetannya tidak separah di Jakarta, namun pembangunan monorail ini perlu dilakukan secepatnya karena akan membutuhkan waktu cukup lama" ujar dosen Departemen Teknik Sipil tersebut.

Hera menuturkan konsep pembangunan AMC ini didasarkan pada Transit Oriented Development (TOD). Konsep TOD berarti semua perpindahan dari rute utama ke rute utama lainnya di Surabaya dapat dilakukan dengan menggunakan AMC

Wanita yang terlibat dalam konsultasi pembangunan AMC Surabaya itu juga mengomentari pembanguna fider untuk memaksimalkan pembangunan AMC Surabaya. "Untuk mendukung mobilisasi masyarakat, seyogianya perlu juga dipersiapkan fider untuk menjangkau masyarakat yang tinggalnya jauh dari lintasan monorail, seperti bus sedang, bus kecil dan elf," papar Hera. 

Selain mengurangi kemacetan, Hera menjelaskan ada beberapa manfaat dari pembangunan AMC ini. Diantaranya ialah mengurangi polusi udara, mengurangi penggunaan bahan bakar minyak , dan yang terutama dapat menjangkau semua mayarakat yang ingin bermobilisasi.

"Pengadaan AMC beserta fider yang sedang dicanangkan Pemkot Surabaya ini juga akan mendukung Kota Surabaya menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali," ujar wanita yang pernah menjabat sebagai Ketua Laboratorium Pusat Studi Transportasi itu.(jel/ven)