LifePlus, Teknologi Penolong Lansia

image
Mahasiswa Teknik Fisika ITS berhasil menciptakan alat yang mampu mengirim pesan saat para lanjut usia (lansia) terjatuh. Tim yang terdiri atas Luthfi, Natsir, dan Detya ini berhasil meraih juara pertama dalam 4th Public Health Competition di Universitas Jember (Unej), Sabtu (19/11) lalu.

Keseimbangan tubuh yang sudah tidak sempurna menyebabkan lansia mudah terjatuh. Hal ini dapat berakibat fatal apabila tidak segera mendapat penanganan karena kondisi fisik yang sudah rapuh. Dengan mendeteksi perubahan percepatan, LifePlus mengirim pesan kepada anak, perawat, atau orang terdekat lain agar segera memberi pertolongan.

Luthfi Fathurrahman, ketua sekaligus penggagas LifePlus menciptakan alat ini sejak setahun yang lalu. Dibantu Natsir Hidayat dan Made Detya Darma, LifePlus berhasil menggondol juara dalam sebuah kompetisi untuk memperingati bulan kesehatan masyarakat. Kompetisi tersebut digelar masing-masing di Unej dan Universitas Airlangga (Unair).

"Karena kompetisi di bulan kesehatan masyarakat ini beruntut, kami mencoba mendaftar di keduanya. Syukurlah kami menjadi juara pertama di PHC Unej. Kemudian, dengan sedikit modifikasi, kami juga menjadi juara ketiga dalam event yang diadakan Unair," tutur Natsir.

Pemuda asal Bekasi ini mengaku, mereka mendapat kesulitan saat mendesain kemasan. "Bentuk LifePlus yang balok dan ditempel di dada mengganggu kenyamanan lansia dalam beraktivitas.  LifePlus ini kurang wearable (susah dipakai, red). Tapi dari segi ide dan konsep sangat bagus. Karena itu, kami ingin mengembangkan alat ini lagi," pungkasnya.

Usut punya usut, LifePlus ternyata gagal lolos menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) dan gagal menjadi juara di Pagelaran Mahasiswa di Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik). Meskipun demikian, nyatanya tim berhasil meraih dua gelar di kompetisi nasional.

Bersama Arief Abdurrakhman ST MT, tim ini berhasil membawa pulang uang senilai Rp 4 juta dari dua event sekaligus. "Kami tidak pernah merasa puas dengan karya kami. Banyak teman-teman di luar yang jauh lebih berprestasi. Talk less do more lah. Berprestasi itu mudah, asal mau bekerja keras," tegas Natsir merendah. (nov/mis)