Ketidakpasian Adalah Hal yang Paling Pasti (?)

image
Hal-hal dalam hidup bukanlah kumpulan angka-angka yang selalu dapat dicerna oleh rumus matematika. Hari ini, A adalah orang paling beruntung di dunia, hari esok siapa yang tahu. Ketidakpastian memang dapat diukur dengan prediksi, meski pada dasarnya prediksi itu sendiri masih tidak pasti. Benarkah demikian?

Artikel ini sebenarnya berawal dari keresahan saya terhadap sebuah pernyataan yang menyebutkan, tidak ada yang lebih pasti dari ketidakpastian. Dari pernyataan singkat tersebut, muncul berbagai pertanyaan dalam benak saya.

Setelah mendiskusikannya bersama beberapa rekan, saya menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut memang tidak sepenuhnya benar, bahkan salah. Sebab, seandainya kita ganti kata ketidakpastian dengan variabel A maka kalimat diatas akan berbunyi, tidak ada yang lebih pasti dari A.

Hal tersebut menegaskan bahwa A adalah wakil untuk setiap hal yang paling pasti di dunia. Salah satu hal yang paling pasti adalah kematian, maka kalimat diatas menjadi, tidak ada yang lebih pasti dari kematian.

Sekilas pernyataan tersebut memang tepat, namun bila kita cocokan dengan pernyataan awal bahwa A adalah variabel yang mewakili ketidakpastian, maka kematian bukanlah bagian dari A. Karena kematian bukanlah bagian dari A, maka pernyataan diatas menjadi tidak tepat.

Lalu bagaimana apabila kita ganti A dengan suatu yang tidak pasti, misalnya besok pagi akan turun hujan. Maka kalimat diatas menjadi, tidak ada yang lebih pasti dari besok pagi akan turun hujan. Tentunya saya akan dengan tegas mengatakan bahwa kalimat tersebut tidak tepat. Sebab, besok pagi bisa saja matahari akan bersinar terang.

Apabila dianalisa lebih dalam, inti dari pernyataan diatas adalah ketidakpastian itu pasti sedang kepastian itu tidak pasti. Dalam bahasa yang lebih sederhana, pasti adalah tidak pasti. Padahal ditambahkannya kata tidak pada kata tersebut berfungsi untuk memberikan negasi pada kata pasti.

Faktanya, negasi berfungsi untuk memberikan oposisi pada kata yang dinegasi. Lantas, mana mungkin sesuatu disamakan eksistensinya dengan oposisinya sendiri. Jadi, dapat disimpulkan bahwa keresahan saya terhadap  ganjilnya pernyataan diatas memang benar adanya.

Kalimat yang lebih tepat seharusnya adalah, dalam hidup, beberapa hal bersifat pasti terjadi, dan beberapa hal tidak pasti terjadi. Beberapa hal yang bersifat pasti misalnya adalah kematian, menua dan sakit. Sedangkan hal yang tidak pasti misalnya adalah besok pagi akan turun hujan.

Namun pada dasarnya, hidup ini memang lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat tidak pasti dibandingkan hal-hal yang bersifat pasti. Untuk itulah kita harus selalu melakukan antisipasi.

Tidak peduli apakah pernyataan diatas benar atau tidak. Hal yang lebih penting adalah bagaimana sikap kita dalam menjalani hidup yang penuh dengan ketidakpastian ini.

Rifqi Nur Mukhammad
Mahasiswa Departemen Teknik Industri
Angkatan 2015