Perbedaan Peran Guru Dulu dan Kini

image
Setiap tanggal 25 November merupakan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Indonesia. Hal demikian diperingati dengan maksud agar kita selalu mengingat jasa-jasa para guru selama mengenyam pendidikan. Namun tampaknya generasi saat ini sudah berbeda jauh dengan generasi terdahulu, khususnya dalam hal menghargai seorang guru.

Mengingat kembali saat zaman kesesatan dan kebodohan atau yang dikenal dengan zaman Jahiliyah. Ketika itu, Bangsa Arab dengan bebas menyembah patung dan berhala buatan mereka sendiri,  tak jarang pula mereka lebih memilih untuk menganut paham animisme, saling bertukar isteri pun sudah biasa mereka lakukan. Ditambah lagi mereka  tidak segan-segan mengubur anak perempuannya hidup-hidup, itupun hanya karena perempuan dianggap tidak berguna ketika menghadapi perang. Sungguh bobrok moral dan akhlak Bangsa Arab kala itu.  

Menghadapi kondisi yang demikian, maka diutuslah Rasulullah SAW yang mengajarkan umat manusia khususnya Bangsa Arab saat itu. Rasulullah mengajarkan  untuk terbebas dari gelapnya kebodohan menuju terangnya cahaya kecerdasan. Setidaknya begitulah gambaran dari peran seorang guru. Ibarat sebuah lilin, guru memberikan penerangan bagi sekitarnya.

Ketika zaman Rasulullah, ada banyak perilaku sahabat nabi mengenai guru yang menggugah hati saya. Salah satunya seperti yang ditunjukkan oleh  Ali Bin Abi Thalib. "Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya"  Begitulah kalimat yang diucapkan oleh Ali Bin Abi Thalib. Ali mencontohkan bahwa sekecil apapun ilmu yang didapat dari seorang guru tak boleh diremehkan.

Ada pula kisah dari Imam Syafi'i yang pernah membuat rekannya terkagum-kagum.Hal itu karena tiba-tiba saja ia mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Lantas para sahabatnya pun bertanya-tanya Mengapa seorang imam besar mau mencium tangan seorang laki-laki tua? Padahal masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya daripada dia.

Imam Syafi'i menjawab bahwadahulu pernah bertanya kepada seorang lelaki tua tersebut, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh. Lelaki tua itu menjawab jika melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh. Hanya ilmu itu yang didapatkan dari Imam Syafi'i dari lelaki tua tersebut. Namun, Imam Syafi'i tak pernah lupa akan secuil ilmu yang patut dihormati. Sikap demikianlah yang mengantarkan Syafi'i menjadi imam besar.

Membandingkan dengan kondisi saat ini, apakah masih ada seseorang yang begitu hormatnya kepada guru seperti kisah Ali Bin Abi Thalib dan Imam Syafi'i ini? Saya jadi teringat dengan kasus dimana guru SMP di Sidoarjo yang harus diadili hanya karena mencubit siswanya. Padahal, bukan dengan maksud lain, guru tersebut hanya ingin memberi hukuman kepada siswa yang tidak melakukan salat Dhuha. Sungguh ironis melihat generasi saat ini yang kurang menghargai sosok gurunya. Saya berharap agar generasi saat ini bisa mengambil suri taulaudan dari orang-orang terdahulu.

Sebagai penutup, saya mengutip kata kata dari pepatah Arab, at-thariqoh ahammu minal maddah walustadz ahammu min kullihima. Metode lebih penting dibandingkan materi pelajaran, namun guru jauh lebih penting dibandingkan keduanya. 

 
Lussy Ro'ichatul Jannah
Mahasiswa Departemen Kimia
Angkatan 2016