Apatis Menyapa, Apa Kabar Idealis?

image
Mahasiswa kura-kura, istilah yang sudah tidak asing terdengar berpuluh tahun lamanya. Kura-kura, kuliah rapat-kuliah rapat, identik dengan mahasiswa aktif yang eksis disana eksis disini. Identik dengan orator hebat dengan orasinya semacam "Ada dua pilihan, menjadi apatis, atau mengikuti arus!" Jujur, saya sedikit banyak bingung dengan kutipan dari Soe Hok Gie diatas. Arus seperti apa sih yang dimaksud? Arus globalisasi? Atau arus listrik? Bahkan Arus sungai?

Jika kehidupan mahasiswa ini diibaratkan sebagai arus dan kami-kami penghuni perguruan tinggi adalah ikan, maka mahasiswa harus melawan arus untuk tetap bertahan hidup. Pada kenyataannya, hanya ikan yang mati saja yang terseret arus. Diombang-ambingkan kemana air mengarah, entah itu nanti sang ikan berlabuh di laut penuh sampah atau lautan yang indah. Lantas, seperti apa yang benar? Menjadi apatis? Atau mengikuti arus? 


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Apatis berarti acuh tidak acuh, tidak peduli, dan masa bodoh dengan lingkungan sekitar. Mahasiswa apatis ini biasanya mahasiswa akademis, yang senang sekali mengejar indeks prestasi tinggi, ini sih kata mahasiswa idealis tadi, yang katanya mengikuti arus, bukan apatis. 

Kehidupan mahasiswa seolah-olah terbagi menjadi dua kubu. Kubu mahasiswa idealis yang menganggap mahasiswa apatis sebagai mahasiswa yang tidak peka, pragmatis, dan belum menyadari hakikatnya sebagai mahasiswa. Serta kubu mahasiswa apatis yang menganggap idealis sebagai orang-orang yang cari ketenaran dan mengidap penyakit sok pahlawan. Saya yakini, kedua kubu ini bersengketa di perguruan tinggi manapun. 

Hanya perbedaan cara pandang saja yang menyebabkan dua kubu mahasiswa ini saling bersengketa. Padahal, mahasiswa apatis tentu memiliki alasan mengapa mereka cenderung menghindar dari kegiatan-kegiatan non akademik seperti organisasi. Tuntutan bertahan hidup di daerah perantauan terkadang memaksa sebagian mahasiswa untuk mengesampingkan kehidupan organisasi.  

Tidak jarang juga mahasiswa memilih untuk mengembangkan potensi dalam dirinya dengan kegiatan yang bukan berbungkus kemahasiswaan. Pet society, parkour, breakdance dan lain-lain adalah bentuk pengembangan diluar kampus. Apakah masih dikatakan apatis?

Idealis seolah salah berfikir. Dalam orasi yang pernah saya dengarkan, Indeks Prestasi (IP) tinggi nampak kurang penting adanya. Kenyataannya, indeks prestasi inilah yang menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan pekerjaan. 

Sangat disayangkan apabila organisasi berjalan lancar tetapi IP pas-pasan. Tujuan berorganisasi adalah untuk bersosialisasi, mencari relasi agar dimudahkan setelah lulus nanti. Namun, apabila berorganisasi ini mengulur waktu studi hingga bersemester-semester lamanya, apakah masih sesuai dengan tujuannya?  

Sebagai mahasiswa yang notabene manusia dewasa, mahasiswa apatis dan idealis tentu memahami konsekuensi atas jalan yang mereka pilih. Yang dikatakan apatis adalah mereka-mereka yang tidak peduli dengan keadaan sekitar. Yang enggan menolong apabila saudara dilanda kesulitan. Yang lebih mementingkan keuntungan pribadi dibandingkan dengan kepentingan bersama. 

Bisa diibaratkan mereka yang apatis ini koruptor, pengusaha yang memonopoli atau lain-lain yang sama sekali tidak peduli dengan kehidupan bangsa ini. Hidup menjadi mahasiswa adalah tempat belajar, tempat salah katanya. Sudah barang pasti, tempat belajar ini berbagai bidangnya. Coba kita lanjutkan kutipan dari Soe Hok Gie yang sempat  saya singgung diatas. "Ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus? Tapi aku memilih menjadi manusia yang merdeka". Artinya, bukan apatis, hanya ranah juang kita saja yang berbeda. Bukan begitu, Idealis?

Novita Amalia
Jurusan Teknik Fisika
Mahasiswi Angkatan 2016