Salah Jurusan atau Belum Nyaman?

image
Satu masalah krusial mahasiswa baru atau mungkin beberapa mahasiswa lama adalah krisis kepercayaan diri dengan apa yang dijalani dan dihadapinya. "apa saya benar melakukan hal ini?," begitu gambaran singkat yang saya prediksi selalu menggerayangi pikiran-pikiran mereka hari demi hari. Beberapa mahasiswa sudah menikmati, beberapa yang lain berat hati menjalani. Begitu mungkin bagaimana paham dikotomi terjadi.

Masa kuliah merupakan masa dimana mahasiswa menempuh pendidikan dengan tingkatan lebih tinggi lagi setelah masa SMA. Tidak jauh berbeda, keduanya bertujuan satu, mutlak mencari ilmu. Yang membedakan hanya tarafnya. Lebih tinggi, tentu lebih kompleks, lebih menyeluruh, gampangnya, lebih memusingkan. 


Dalam kehidupan, tentu ketika kita berupaya berubah dari satu level ke level lainnya, ada satu tempo dimana keadaan kia belum benar-benar stabil untuk menginjak level selanjutnya. Keadaan dimana kita masih goyah dan belum sinkron penuh dengan lingkungannya. Kita sebut masa itu masa transisi. 

Masa transisi sendiri merupaan masa peralihan dari kedaan satu dengan yang lain. Dalam kasus ini adalah sekolah menengah atas menuju pendidikan perguruan tinggi. Tak ayal, pasti kita melalui masa transisi tersebut. Sebut saja masa transisi mahasiswa paling tepat ketika kita berada pada tahun pertama, yakni pada saat semester satu atau dua.

Saya simpulkan, ketidaknyamanan dan bayang-bayang "Apa saya salah jurusan?" banyak timbul karena belum stabilnya mahasiswa di masa ini, masa transisi. Beberapa mungkin berdalih "Passion saya memang tidak disini" Bagaimana yang demikian? Apa benar-benar salah jurusan? Haruskah tidak melanjutkan? Atau baiknya dipaksakan?

Seseorang dikatakan tersesat ketika destinasi utamanya tak terpenuhi, ia malah terperosok dalam ruangan yang lain. Ruangan yang sama sekali bukan gayanya, keinginannya, kemauannya. Katakanlah saya sangat ingin dan menyukai departemen A, namun saya diterima di departemen B yang notabene saya isi karena formalitas agar semua opsi pendaftaran terpenuhi. 

Fiktif dan manipulatif. Tuhan berkata saya masuk jurusan B, maka saya menganggap diri saya tersesat dan bayang-bayang kosakata serupa "Apa saya salah jurusan?" bisa saja menghantui sendi perkuliahan saya.

Kasus kedua, ketika saya mantab dengan pilihan departemen saya, kemudian setelah beberapa kali menjalani, ada bisikan "Apa saya salah jurusan?" maka apa yang salah? Apa yang membuat saya tersesat? Apa destinasi yang lebih utama ketika destinasi utama saya sudah terpenuhi? Maka kasus yang demikian berada dalam kategori masa transisi, masa adaptasi. Seperti yang saya singgung diatas, mahasiswa tersebut mengalami krisis keperayaan diri.

Dua kasus di atas sejatinya butuh adaptasi, tidak ada yang salah dengan kutipan yang beberapa kali saya senggol pada tulisan ini, "Apa saya salah jurusan?"semuanya butuh proses. Proses beradaptasi, proses melewati masa transisi. kesemuanya harus dijalani dengan tulus hati. Bisa saja dengan kepandaian kita beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi, kita dapat diantar pada kebahagiaan yang sesungguhnya sehingga menjadi "Tersesat dalam keberuntungan". Dan akhirnya siapa sangka, adaptasi bisa membedakan antara keinginan dan kenyataan.

Belajar di dunia perkuliahan memang tidak mudah, jalan mengarah pada sukses jelas banyak terhalang aral. Satu kunci agar dapat menaklukkan dunia perkuliahan semester awal adalah sekali lagi, jalani dengan tulus hati. Apakah nanti pada akhirnya memilih untuk berjuang lagi, atau kukuh dengan yang ada saat ini.

Bahkan Benjamin X Wretlin, dalam bukunya Castles: A Fictional Memoir of a Girl with Scissors pernah mengatakan "I have always believed there are moments in our lives which can be defined as a transition between the before and after, between the cause and the effect," Untuk itu mulai sekarang jalani dan nikmati kegiatan kita sekarang sebagai mahasiswa. Semangat dengan tugas besarnya! Kuisnya! Lapresnya! Organisasinya! Kita bisa!

Mujtahidatul Alawiyyah
Mahasiswa Depertemen Fisika 
Angkatan 2016