Golput Bukan Sikap Mahasiswa Kampus Perjuangan

image
KM ITS hari ini dan dua hari yang lalu merayakan pesta demokrasi untuk memilih calon presiden BEM periode 2016-2017 dan memilih anggota legislatif yaitu memilih Dewan Perwakilan Mahasiswa ITS (DPM). Sayangnya, momen demokrasi ini belum dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian mahasiswa yang memilih untuk menjadi golongan putih atau sekadar datang ke Tempat Pemungutan Suara saja enggan. Mereka inilah mahasiswa ITS yang tidak memahami esensi keberadaannya sebagai mahasiswa kampus perjuangan.

Bila menengok cita-cita yang terpampang besar pada logo Dies Natalis 56 ini, maka kita akan tahu bahwa Dies Natalis kali ini membawa keinginan untuk "Membangun Peradaban Madani". Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, apakah semua civitas akademika ITS sudah berusaha mewujudkan cita-cita tersebut? Mari kita ulas satu per satu.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, peradaban diartikan kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) atau hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Mengacu pada pengertian pertama, ITS yang merupakan kampus berbasis teknologi tentu memiliki berupaya membangun peradaban yang lebih maju. Salah satu contoh yang paling mudah adalah sistem e-vote pada pemilihan raya yang sudah mulai diterapkan sejak 2015.

Sedangkan untuk istilah madani, kita tentu tidak asing dengan kata "masyarakat madani". Secara umum dan formalitas di semua kalangan khususnya di Indonesia, masyarakat madani atau civil society ini berarti sebuah tatanan masyarakat sipil atau civil society yang mandiri dan demokratis serta menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang berlaku dengan suatu tujuan dan kebudayaan yang sama dan tidak menjadi penyebab terjadinya tindakan penyalahgunaan kewenangan.

Bila kita gabungkan istilah peradaban madani, saya menyimpulkan bahwa membangun peradaban madani ialah Upaya mewujudkan kampus yang memiliki kemajuan kebudayaan (termasuk menjunjung tinggi nilai, norma, dan hukum), kecerdasan,  kesadaran demokrasi, dan menjadi PTN yang mandiri dalam mengurusi rumah tangganya sendiri.

Sekarang mari kita perhatikan peran sivitas akademika ITS dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Dari pihak birokrasi ITS, upaya mencapai cita-cita ini diwujudkan dengan menyiapkan ITS menjadi PTn berbadan hukum yang akan mulai diterapkan tahun depan. Kelak bila ITS berstatus PTN BH, maka ITS memiliki keleluasaan untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi secara otonom untuk menghasilkan pendidikan tinggi yang bermutu. Dengan demikian nilai mandiri terwakili oleh pihak birokrasi ITS.

Selanjutnya kita tengok pada kalangan tenaga didik. Peran tendik membangun intelektualitas mahasiswa tentu sudah tidak diragukan. Kita mengenal dosen pembimbing baik itu di tugas akhir atau dosen pembimbing lomba-lomba keilmiahan yang diikuti mahasiswa. Dari sini dapat dikatakan nilai kemajuan kecerdasan (intelektual) juga sedang dibangun.

Selanjutnya membangun peradaban dilihat dari nilai kebudayaan. Saya mengakui berbagai pihak telah mengupayakan kemajuan kebudayaan di kampus perjuangan. Dari kalangan agamis, seperti JMMI mengadakan kegiatan rutin ITS Cinta Subuh, bahkan di kegiatan ITS Cinta Subuh bulan ini (12/11) diadakan dengan menambahkan kegiatan mentoring akbar untuk mahasiswa muslim 2016.

Sementara dari KM ITS pun turut berupaya membangun kebudayaan yang lebih maju. BEM ITS dengan kegiatan tahunannya mengadakan ITS Expo, dimana acara tersebut mengkolaborasikan Ilmu, seni, dan budaya. Kaderisasi di ITS pun sudah lebih maju daripada tahun-tahun sebelumnya, karena saat ini nilai-nilai kaderisasi yang sudah tidak sesuai di zaman sekarang mulai dihilangkan.

Nilai yang terakhir, yang menjadi poin utama yang ingin saya bahas adalah kesadaran demokrasi. Salah satu yang mencirikan peradaban madani adalah kesadaran masyarakat dalam memilih pemimpin. Sebab pemimpin yang sesuai dengan aspirasi rakyatnya akan lebih mudah untuk membangun negara yang dipimpinnya, karena mayoritas rakyat akan mendukung program kerjanya.

Kesadaran demokrasi ini masih belum terbangun di sebagian mahasiswa kampus perjuangan. Tengok saja berapa prosentase mahasiswa  yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap, yang menggunakan hak pilihnya di pemira ini. Sayangnya saya belum sempat mendapatkan data seluruh DPT yang sudah memilih dua hari kemarin. 

Kalau mengambil sampel dari satu angkatan di departemen saya, hingga hari kedua pemira kemarin, baru sekitar 37% yang menggunakan hak suaranya. Itu pun belum dikurangi mereka yang meng-klik pilhan golput di e-vote.

Dari sampel satu angkatan di sebuah departemen saja masih sedikit yang memiliki kesadaran demokrasi. Sementara 63 % sisanya masih belum sempat mengunjungi TPS. Saya katakan masih belum, karena masih ada hari terakhir untuk memilih.

Kebanyakan mereka yang enggan memilih ini menurut hemat saya diantaranya disebabkan karena pandangan negatif tentang pemira, seperti pemira tidak berpengaruh pada kegiatan akademis mereka (pemikiran apatis), atau karena mereka belum memahami calon yang dipilih.

Mereka yang apatis dengan pemira ini, seakan telah lupa bahwa mungkin beasiswa yang mereka dapatkan adalah karena info dari HMJ atau kementrian Kesejahteraan Mahasiswa BEM. Mereka yang enggan memilih ini mungkin lupa kebijakan BEM ITS juga akan berdampak pada HMJ dan tentunya mahasiswa ITS.

Mereka yang memilih menjadi golongan putih karena keacuhan, mungkin mereka telah lupa, bagaimana kaderisasi yang 'sempat memaksa' mereka melakukan berbagai kegiatan di waktu menjadi mahaasiswa baru, adalah buah dari kebijakan BEM ITS yang diteruskan oleh HMJ masing-masing.

Maka sejatinya pemira ini bukan memilih untuk kepentingan regenerasi BEM dan DPM semata, akan tetapi juga untuk memilih orang yang akan mewakilkan suara mereka di institut. Pemira ini adalah sarana demokrasi bagi mahasiswa kampus perjuangan untuk memilih calon yang mampu membawa aspirasi mereka, atau setidaknya mencegah yang buruk berkuasa.

Bila anda yang belum menggunakan hak suara karena tidak mengenal calon Presbem maupun calon DPM, maka kampanye yang sudah difasilitasi sebulan lebih oleh Panitia Pemilihan Umum (PPU), patut untuk dijadikan bahan evaluasi bagi PPU ITS ke depan dan juga Tim Sukses Kandidat Capresbem, serta calon-calon DPM di masing-masing departemen. 

Untuk itu saya menghimbau KM ITS yang belum menggunakan hak suara, agar tidak menyia-nyiakan momen pemira ini. Masih ada hari terakhir sebagai pembuktian kita memang pantas menyandang status mahasiswa kampus perjuangan. Mari berjuang bersama civitas akademika ITS untuk mewujudkan cita-cita ITS di usianya yang ke 56 ini, membangun peradaban madani, peradaban yang masyarakatnya memiliki kesadaran demokrasi.

Dzikri Imaduddin
Mahasiswa Departemen Teknik Kimia
Angkatan 2015