Bioteknologi Atasi Permasalahan Ekosistem Akuatik

image
Berbagai permasalahan lingkungan skala dunia rupanya mampu ditangani dengan cara bioteknologi. Salah satunya adalah ketidakseimbangan ekosistem danau tawar yang diakibatkan oleh pesatnya pertumbuhan rumput akuatik. Adalah Dr Tatsuki Toda, doktor asal Universitas Soka Jepang, yang membeberkan rahasianya.

Lelaki asal Jepang ini sengaja dihadirkan dalam gelaran International Postgraduate Conference on Biotechnology (IPCB) 2016 yang digelar sejak Rabu (24/8) lalu. Dr Tatsuki Toda diundang secara khusus oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember untuk memaparkan rahasia pemanfaatan bioteknologi di negara asalnya.

Dekan sekolah teknik yang telah menjabat sejak april 2015 ini memaparkan bahwa rumput akuatik menjadi salah satu kasus perairan tawar terbesar di dunia. "Tak hanya di Jepang, negara-negara lain seperti Inggirs, Tiongkok bahkan Malawi di Afrika sekalipun pernah mengalaminya," jelasnya.

Dirinya mengaku di Jepang sendiri permasalahan ini sangat mengganggu karena menyerang salah satu danau terbesar di Jepang, yakni Danau Biwa. Tak tanggung-tanggung rumput akuatik ini bahkan menyelimuti hampir 90 persen permukaan danau. "Hal ini menyebabkan kehidupan akuatik danau mati dan keseimbangannya menjadi rusak," ujarnya menjelaskan.

Lebih lanjut, tambah Toda, kejadian ini menyebabkan nelayan merugi dan mengganggu perekonomian masyarakat sekitar danau. Ditambah lagi dengan bau menyengat yang membuat wisatawan enggan datang."Padahal jika bisa diatur dengan baik, manfaat yang dirasakan sungguh sangat besar," terang ahli Ekologi Akuatik ini.

Salah satu cara yang dipilih oleh Negara Sakura dalam mengatasi permasahan tersebut adalah memanen rumput akuatik tersebut. Rumput yang dipanen nantinya akan didaur ulang menjadi pupuk, antioksidan, suplemen makanan, hingga energi terbarukan."Panen dilakukan tiap tahun sehingga purifikasi air dan kelangsungan habitat akuatik dapat terjaga dengan baik," papar Toda.

Meski diakuinya produk daur ulang tersebut belum maksimal, namun hasil yang didapat sudah sesuai dengan harapan. Salah satunya adalah pemanfaatan rumput akuatik menjadi pupuk. "Pamornya memang masih kalah dengan pupuk kimia yang  sudah teruji keunggulannya," beber pria berkacamata ini.

Berbagai evaluasi dan pengembangan utamanya dalam bidang bioteknologi dirasa sangat dibutuhkan. Mulai dari teknologi pengolahan yang efektif misalnya dengan sistem digesti anaerobik hingga teknik kultur massa menjadi titik berat yang difokuskan."Karya-karya peneliti muda utamanya dalam bidang pemulihan lingkungan sangat diharapkan,"pungkasnya. (arn/hil).