
Kampus ITS, GLC News — Unit Pusat Bahasa Global (UPBG) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjalin kerja sama dengan Sekolah Bahasa Pusat Pendidikan Bantuan Administrasi (Pusdikbanmin) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Laut (Kodiklatal) melalui penyelenggaraan English Communication Readiness Workshop 2026 di Ruang BTI (Bhinneka Tunggal Ika) UPBG ITS pada 11 Juni lalu. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembekalan bahasa Inggris bagi personel Satgas Gaza Gelombang 3 Tahun Ajaran 2026 guna meningkatkan kompetensi komunikasi internasional sekaligus pemahaman lintas budaya dalam mendukung pelaksanaan misi kemanusiaan.
Kepala UPBG ITS, Ibu Cahyani Satiya Pratiwi SS, menjelaskan bahwa kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris saat ini tidak hanya berfokus pada penguasaan bahasa, tetapi juga mencakup pemahaman lintas budaya. Menurutnya, keterampilan tersebut menjadi bekal penting bagi peserta untuk membangun komunikasi yang efektif serta menjalin kolaborasi dalam lingkungan internasional.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap peserta dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris sekaligus memperluas pemahaman lintas budaya. Melalui sesi Cross-Cultural Understanding, Essential English Communication, dan Focus Group Discussion (FGD), peserta diharapkan memperoleh keterampilan yang bermanfaat, semakin percaya diri dalam berkomunikasi, serta mampu membangun hubungan dan kolaborasi yang baik dengan sesama peserta. Di tengah dunia yang semakin terhubung, kemampuan berkomunikasi tidak hanya tentang menguasai bahasa, tetapi juga memahami perbedaan, menghargai keberagaman, dan mampu bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai latar belakang,” ujar Ibu Cahyani.

Workshop ini menghadirkan dua instruktur UPBG ITS, yakni Bapak M. Teguh Prasetiyo MPd dan Ibu Meilisa Sindy Astika Ariyanto MPd. Materi yang diberikan berfokus pada komunikasi interkultural dalam konteks kemanusiaan (intercultural communication for humanitarian contexts), mulai dari pengenalan budaya, pemahaman culture shock, komunikasi dalam situasi darurat, hingga teknik menyampaikan informasi dan laporan secara efektif menggunakan bahasa Inggris.
Dalam sesi pembelajaran, peserta diajak mempelajari berbagai skenario komunikasi yang kerap ditemui pada lingkungan multikultural dan situasi kemanusiaan. Melalui diskusi, simulasi, serta latihan berbasis kasus, peserta berlatih menyampaikan informasi, meminta klarifikasi, menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara, hingga merespons kebutuhan masyarakat secara tepat dan empatik.
Sebanyak 23 personel yang mengikuti workshop ini berasal dari berbagai korps di lingkungan TNI AL, yakni pelaut, kesehatan, khusus, elektro, suplai, dan marinir. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, seluruh peserta mengikuti pembelajaran bersama untuk memperkuat kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris serta memahami interaksi lintas budaya.

Ibu Meilisa Sindy Astika Ariyanto MPd menjelaskan bahwa materi dirancang untuk membangun kesiapan komunikasi peserta dalam situasi nyata yang membutuhkan kepekaan budaya dan kemampuan berinteraksi dengan masyarakat internasional dalam Humanitarian Service.
“Kami menghadirkan pengalaman belajar yang menggabungkan pembelajaran bahasa secara praktis dan komunikatif dengan interaksi langsung bersama mahasiswa internasional ITS. Melalui pengalaman ini, peserta dapat mempraktikkan materi yang dipelajari dalam situasi nyata sekaligus memperluas wawasan global dan keterampilan komunikasi lintas budaya mereka,” tutur Ibu Meilisa.
Keunikan workshop ini terletak pada keterlibatan mahasiswa internasional program Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dan Global Excellence Scholarship (GES). Dalam sesi Focus Group Discussion (FGD), peserta berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari berbagai negara untuk mendiskusikan budaya dan norma sosial yang berlaku di masing-masing negara.

Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh pengalaman nyata dalam memahami perbedaan cara berkomunikasi, bahasa tubuh, interaksi gender, etika mengambil foto, hingga penggunaan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi di lingkungan internasional. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan secara berkelompok sebagai sarana berbagi wawasan dan pengalaman antarpeserta.
Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara UPBG ITS dan Sekolah Bahasa Pusdikbanmin Kodiklatal dalam pengembangan kompetensi global.
Dalam jangka panjang, UPBG ITS berkomitmen untuk terus menghadirkan program pelatihan berbasis kebutuhan mitra yang mengintegrasikan kemampuan bahasa, komunikasi lintas budaya, dan wawasan global. Melalui kolaborasi berkelanjutan dengan berbagai institusi, ITS berharap dapat terus berkontribusi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan dunia internasional. (*)
Disusun oleh: Alzena Mayla Shabrina
Redaktur: Unit Pusat Bahasa Global, ITS